PONTIANAK – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus meluas di Kalimantan Barat dan memaksa sejumlah daerah menaikkan status kewaspadaan. Di Kabupaten Kubu Raya, aktivitas pemadaman masih berlangsung di beberapa titik rawan yang kembali muncul sejak akhir Januari 2026.
Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalimantan Barat, Daniel, mengungkapkan kondisi tersebut saat ditemui di ruang Pusdalops BPBD Kalbar, Minggu (01/02/2026).
“Dalam sepekan terakhir, laporan karhutla masih masuk dari beberapa kabupaten. Karena itu, Kubu Raya, Ketapang, dan Sambas sudah menetapkan status siaga darurat,” ujar Daniel kepada wartawan.
Daniel menjelaskan, Kabupaten Kubu Raya menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kabut Asap akibat karhutla sejak 15 Januari hingga 31 Desember 2026, mengingat wilayah tersebut memiliki lahan gambut luas dan rawan terbakar saat curah hujan rendah. “Kubu Raya ini wilayahnya sensitif. Begitu ada pembukaan lahan dan cuaca kering, api cepat menyebar. Makanya statusnya dibuat panjang untuk kesiapsiagaan,” katanya.
Sementara itu, Kabupaten Ketapang memberlakukan siaga darurat mulai 15 Januari sampai 15 April 2026, disusul Kabupaten Sambas sejak 19 Januari hingga 19 April 2026, menyesuaikan intensitas kejadian di masing-masing wilayah.
Berdasarkan data BPBD Kalbar hingga 25 Januari 2026, karhutla di Kubu Raya dan Kota Pontianak tercatat menghanguskan lahan seluas 32,9 hektare, dengan 17,5 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan.
Daniel menyebut, pemadaman di lapangan tidak selalu berjalan mudah karena kondisi cuaca dan akses lokasi. “Sebagian titik berada di area sulit dijangkau. Personel harus berjalan kaki dan menggunakan mesin pompa portabel,” ungkapnya.
Di Kabupaten Sambas, luas lahan terdampak mencapai 138 hektare dan seluruhnya telah dilakukan pemadaman. Sedangkan di Kabupaten Mempawah, kebakaran terjadi di lima desa pada tiga kecamatan dengan total area terbakar sekitar 30 hektare, namun baru empat hektare yang berhasil dikendalikan.
BPBD Kabupaten Ketapang melaporkan kebakaran di enam desa pada tiga kecamatan dengan luas lahan terbakar 16,7 hektare, dan 9,3 hektare telah dipadamkan.
Menurut Daniel, penanganan karhutla dilakukan secara terpadu bersama TNI, Polri, Manggala Agni, UPT KPH, relawan pemadam, hingga masyarakat peduli api. “Kami minta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Sekali api lepas, dampaknya panjang, bukan cuma lingkungan tapi juga kesehatan,” tegasnya.
BPBD Kalbar memastikan pemantauan intensif terus dilakukan, khususnya di daerah yang telah menetapkan status siaga darurat, guna mencegah meluasnya kebakaran dan ancaman kabut asap. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan