KUTAI KARTANEGARA – Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Rengginang Ibu Supriati yang berlokasi di Muara Jawa Ulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, terus bertahan dan berkembang sejak dirintis pada 2018. Mengusung cita rasa 100 persen asli terasi Jawa, produk ini hadir sebagai camilan tradisional dengan tekstur “real” yang membedakannya dari kerupuk berbahan tepung.
Supriati menjelaskan, rengginang produksinya dibuat dari beras ketan pilihan dengan proses pengolahan tradisional, sehingga menghasilkan tekstur khas yang renyah namun tetap padat.
“Rengginang bukan sekadar camilan tradisional biasa. Teksturnya unik dan terasa asli, berbeda dengan kerupuk tepung yang cenderung halus,” ujarnya saat diwawancarai pada Senin (02/02/2026).
Dari sisi produksi, Rengginang Ibu Supriati mampu mengolah sekitar 25 kilogram beras ketan per minggu. Kapasitas tersebut disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku serta permintaan pasar. Produk dikemas dalam berbagai ukuran dengan harga terjangkau, mulai dari Rp15.000 hingga Rp18.000 per kemasan, menyasar konsumen rumah tangga hingga pengunjung berbagai kegiatan dan acara.
Dalam hal pemasaran, Supriati memanfaatkan strategi penjualan secara offline dan online. Penjualan langsung dilakukan di lingkungan sekitar serta pada event-event masyarakat, sementara pemasaran digital dilakukan melalui media sosial seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp untuk menjangkau konsumen lebih luas.
Tak hanya melayani pasar lokal, produk Rengginang Ibu Supriati juga telah menjangkau luar daerah hingga Jakarta. Pesanan dari luar daerah biasanya dibawa langsung oleh pemesan yang berasal dari perusahaan. Pada akhir tahun 2025, tercatat pesanan sebanyak 100 pcs yang dibawa ke Jakarta, serta 200 pcs pesanan untuk Galeri Samarinda.
Meski demikian, Supriati mengakui masih menghadapi sejumlah kendala dalam pengembangan usaha. Tantangan utama yang dirasakan adalah keterbatasan modal serta pemasaran.
“Modal dan pemasaran masih jadi kendala. Produksi bisa ditingkatkan, tapi perlu dukungan agar jangkauan pasar lebih luas,” katanya.
Untuk menjaga minat konsumen, Supriati aktif mengikuti berbagai event dan kegiatan masyarakat sebagai sarana promosi. Strategi ini dinilai efektif dalam memperkenalkan produk ke pasar baru sekaligus mempertahankan loyalitas pelanggan. Dari upaya tersebut, omzet bulanan yang diperoleh berkisar antara Rp1 juta hingga Rp2 juta.
Keberadaan Rengginang Ibu Supriati menjadi contoh nyata bagaimana UMKM lokal mampu bertahan dengan mengandalkan kualitas rasa dan keunikan produk. Dengan dukungan promosi berkelanjutan serta akses permodalan, usaha ini berpeluang meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar, sekaligus menggerakkan perekonomian lokal di Muara Jawa Ulu dan sekitarnya. []
Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan