MAHAKAM ULU – Warga Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, tengah menghadapi lonjakan harga sembilan bahan pokok (sembako) seiring surutnya debit Sungai Mahakam akibat musim kemarau. Kondisi tersebut berdampak langsung pada terganggunya distribusi logistik ke wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia yang selama ini sangat bergantung pada jalur transportasi sungai.
Sungai Mahakam merupakan akses utama pengangkutan barang dan mobilitas masyarakat menuju Kecamatan Long Apari. Namun, saat musim kemarau, surutnya air sungai menyebabkan kapal pengangkut tidak dapat beroperasi secara maksimal, sehingga pasokan kebutuhan pokok menjadi terbatas dan biaya angkut meningkat.
Camat Long Apari, Petrus Ngo, mengatakan bahwa hambatan distribusi logistik akibat faktor alam tersebut hampir selalu terjadi setiap musim kemarau dan berimbas langsung pada stabilitas harga barang kebutuhan pokok di wilayahnya.
“Distribusi sembako ke Kecamatan Long Apari selama ini terkendala faktor alam, terutama kemarau yang menyebabkan Sungai Mahakam surut. Akibatnya, harga sembako menjadi mahal dan ketersediaannya terbatas,” ujar Petrus, Selasa (02/02/2026).
Menurut Petrus, keterbatasan pasokan membuat harga sejumlah komoditas pangan strategis mengalami lonjakan cukup signifikan. Beras menjadi salah satu komoditas yang paling terdampak. Untuk beras premium kemasan 20 kilogram, harga sempat mencapai kisaran Rp850.000 hingga Rp1.000.000 per karung. Sementara itu, harga beras medium berada pada kisaran Rp650.000 hingga Rp1.000.000 per karung, tergantung merek dan kualitas.

Selain beras, harga gula pasir juga mengalami kenaikan hingga mencapai Rp25.000 per kilogram. Kondisi serupa terjadi pada bahan bakar minyak (BBM). Pertalite yang dijual secara eceran di luar Agen Premium Minyak Solar (APMS) dijual dengan harga Rp20.000 hingga Rp25.000 per liter. Bahkan, harga tabung gas elpiji sempat menembus angka sekitar Rp850.000 per tabung. “Kondisi seperti ini cukup sering terjadi setiap kali kemarau panjang melanda,” katanya.
Tak hanya berdampak pada harga sembako, keterbatasan akses transportasi sungai juga memengaruhi distribusi BBM ke Kecamatan Long Apari. Petrus menjelaskan bahwa stok BBM di APMS sebenarnya tersedia, namun jumlahnya terbatas dan penyalurannya harus dilakukan secara bertahap karena kendala pengangkutan.
“Untuk sementara, setiap kepala keluarga mendapatkan jatah sekitar 55 liter BBM. Stok untuk dua kecamatan di wilayah Ulu Riam sebenarnya aman, tetapi pengangkutannya terkendala karena masih mengandalkan transportasi sungai menggunakan long boat,” jelasnya.
Ia menambahkan, persoalan tingginya harga sembako dan keterbatasan BBM tersebut telah dibahas dalam rapat dengar pendapat bersama anggota DPRD Mahakam Ulu, termasuk dengan pengelola APMS. Pembahasan tersebut bertujuan mencari solusi, baik jangka pendek maupun jangka panjang, agar distribusi logistik ke wilayah perbatasan tidak terus mengalami hambatan.
Menurut Petrus, solusi paling mendasar untuk mengatasi persoalan distribusi logistik saat musim kemarau adalah pembangunan infrastruktur jalan darat menuju Kecamatan Long Apari. Akses jalan yang memadai dinilai akan menjadi jalur alternatif selain sungai, sehingga pasokan barang tetap dapat berjalan meskipun debit air sungai menurun.
“Kami berharap akses jalan menuju dua kecamatan di Ulu Riam, khususnya ke Long Apari yang merupakan kawasan perbatasan negara, bisa segera dibangun dengan baik. Dengan begitu, ketika terjadi kemarau, distribusi logistik tetap bisa berjalan lancar,” ujarnya.
Sebagai wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia, Kecamatan Long Apari dinilai membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah, baik di tingkat kabupaten, provinsi, hingga pusat. Petrus menegaskan bahwa pihak kecamatan hanya dapat menyampaikan aspirasi dan keluhan masyarakat kepada para pemangku kebijakan yang memiliki kewenangan.
“Kami berharap para pengambil kebijakan benar-benar memperhatikan masyarakat di kawasan perbatasan. Pemerataan pembangunan harus dirasakan hingga ke daerah paling ujung. Di situlah masyarakat bisa merasakan kehadiran negara,” tegasnya.
Di tengah keterbatasan pasokan bahan pangan dari luar daerah, Petrus menyebutkan adanya sedikit harapan dari hasil panen padi ladang yang mulai dilakukan oleh masyarakat setempat. Ia berharap panen tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan beras warga Long Apari dalam jangka pendek.
“Menjelang akhir Januari, sudah ada beberapa kampung yang mulai panen padi ladang. Mudah-mudahan ini bisa membantu mengatasi keterbatasan ketersediaan beras di Long Apari,” pungkasnya. []
Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan