UMKM Samboja Hadirkan Bon-Bon Jahe Tanpa Pengawet, Sehat dan Praktis

KUTAI KARTANEGARA – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Dapoer Miramal milik Rasidah terus berupaya mempertahankan eksistensinya melalui produk minuman herbal Bon-Bon Jahe, olahan jahe khas Samboja yang praktis dikonsumsi dan bebas bahan pengawet. Usaha berskala kecil yang dirintis sejak 2020 ini dikelola secara mandiri bersama keluarga dan menjadi salah satu produk lokal yang mengangkat potensi rempah daerah.

Rasidah menjelaskan, Bon-Bon Jahe dibuat dari jahe pilihan yang diolah secara tradisional dengan tetap memperhatikan kebersihan dan kualitas produksi. Minuman herbal ini dikemas dalam botol agar mudah dikonsumsi kapan saja, sehingga cocok bagi masyarakat dengan aktivitas padat. Selain memberikan sensasi hangat khas jahe, produk ini juga diminati karena tidak menggunakan bahan pengawet kimia.

“Sejak awal saya ingin membuat produk yang aman, sehat, dan tetap mempertahankan rasa jahe asli khas Samboja. Bon-Bon Jahe ini praktis, tinggal minum saja,” ujar Rasidah saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kamis (05/02/2025).

Dalam satu bulan, UMKM Dapoer Miramal mampu memproduksi sekitar 50 hingga 100 botol, tergantung pada permintaan pasar. Keterbatasan kapasitas produksi disebabkan usaha ini masih dikelola secara sederhana dengan peralatan rumahan dan tenaga keluarga. Meski demikian, Bon-Bon Jahe tetap memiliki konsumen setia, khususnya di kalangan masyarakat lokal yang menyukai minuman herbal tradisional.

Bon-Bon Jahe dipasarkan dengan harga Rp15.000 per botol. Dari hasil penjualan tersebut, Rasidah mengungkapkan omzet usaha berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan. Pendapatan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, kemasan, serta mendukung keberlangsungan usaha.

Rasidah mengakui, kendala utama yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan pemasaran. Selama ini, penjualan masih mengandalkan penjualan langsung dan promosi dari mulut ke mulut, sehingga jangkauan pasar belum maksimal.

“Kualitas produk terus kami jaga, tetapi pemasaran masih terbatas. Harapannya ke depan bisa lebih dikenal luas,” katanya.

Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, Rasidah tetap optimistis UMKM Dapoer Miramal dapat berkembang. Ia berharap adanya dukungan promosi melalui pameran UMKM maupun pemanfaatan media digital agar produk Bon-Bon Jahe khas Samboja dapat menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk di luar daerah.

Keberadaan UMKM berbasis kearifan lokal seperti Dapoer Miramal dinilai memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat sekaligus melestarikan potensi rempah tradisional. Bon-Bon Jahe tidak hanya menjadi minuman herbal, tetapi juga wujud kreativitas pelaku UMKM Samboja dalam mengolah sumber daya lokal menjadi produk bernilai ekonomi. []

Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com