KUTAI KARTANEGARA – Kepala Desa Loa Duri Ilir, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Fakhri Arsyad, menginisiasi penanaman sorgum sebagai komoditas pertanian alternatif bernilai ekonomi tinggi. Ide ini muncul setelah ia melihat harga sorgum di sejumlah swalayan tergolong mahal dan berpotensi menjadi peluang usaha bagi masyarakat desa.
Saat ditemui di Kantor Desa Loa Duri Ilir pada Jumat (06/02/2026), Fakhri menjelaskan bahwa gagasan menanam sorgum bermula dari pengamatannya terhadap harga jual sorgum yang bisa menembus di atas Rp30.000 per kilogram di pasaran modern. Menurutnya, harga tersebut menunjukkan bahwa sorgum memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan apabila dikembangkan secara serius di tingkat desa.
“Dari situlah saya berpikir, ini bisa menjadi peluang untuk dikembangkan di Loa Duri Ilir. Kemudian saya memesan bibit sorgum dan menanamnya di lahan sekitar satu hektare pada tahun 2025 lalu,” ujar Fakhri.
Penanaman sorgum membuahkan hasil. Panen besar pertama dilakukan sekitar Oktober 2025, atau empat bulan setelah masa tanam, dengan total produksi mencapai 300 kilogram sorgum. Selain itu, Fakhri menyebut sorgum memiliki keunggulan dibanding tanaman pangan lain karena dalam satu kali tanam dapat dipanen hingga empat kali.
“Setelah dipanen, batang tanaman sorgum cukup dipotong lalu dibiarkan tumbuh kembali. Tidak perlu menanam benih baru, hanya tinggal diberi pupuk saja,” jelasnya.
Selain bernilai ekonomis, sorgum juga dikenal sebagai pangan alternatif yang lebih sehat. Tanaman ini dapat menjadi pengganti nasi, terutama bagi penderita diabetes, karena rendah gula dan bebas gluten. Potensi ini sejalan dengan tren gaya hidup sehat yang mulai berkembang di masyarakat.
Namun, pengembangan sorgum di Loa Duri Ilir menghadapi sejumlah kendala. Fakhri menjelaskan, kendala utama adalah terbatasnya penggilingan padi yang bersedia menggiling sorgum. Bentuk biji sorgum yang berbeda dengan padi membuat proses penggilingan memerlukan setelan khusus pada mesin.
“Tidak semua penggilingan mau menggiling sorgum, sehingga saya harus berkeliling mencari tempat yang bisa. Ini cukup menyulitkan untuk pengembangan lebih lanjut,” ungkap Fakhri.
Akibat kendala tersebut, ia mulai mempertimbangkan untuk beralih ke tanaman lain seperti jagung. Meski demikian, sorgum masih memiliki peminat, termasuk pembeli yang bersedia membeli sorgum belum digiling dengan harga sekitar Rp10.000 per kilogram.
Fakhri menilai rendahnya minat dan pemahaman masyarakat terhadap sorgum juga menjadi tantangan tersendiri. “Kemungkinan karena masyarakat belum mengenal sorgum dan manfaatnya. Harusnya ada sosialisasi terlebih dahulu supaya masyarakat tahu dan tertarik,” pungkasnya.
Ke depan, inisiatif ini diharapkan dapat menjadi perhatian pemerintah dan pihak terkait agar potensi sorgum sebagai komoditas pangan alternatif sekaligus sumber ekonomi desa dapat dikembangkan secara maksimal. []
Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan