KYIV — Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan adanya dorongan baru dari Amerika Serikat untuk menghentikan perang antara Ukraina dan Rusia yang telah berlangsung hampir empat tahun. Menurutnya, Washington menargetkan konflik tersebut dapat diakhiri pada Juni 2026.
Pernyataan itu disampaikan Zelensky dalam keterangan kepada wartawan yang dipublikasikan pada Sabtu pagi, sebagaimana dilaporkan Minggu (08/02/2026). Ia menyebut Amerika Serikat juga menawarkan diri menjadi tuan rumah pertemuan langsung antara delegasi Kyiv dan Moskow, dengan lokasi yang diusulkan berada di Florida, kemungkinan Miami, dalam waktu sekitar sepekan.
Zelensky menjelaskan bahwa inisiatif tersebut merupakan pertama kalinya Washington secara terbuka mengusulkan pertemuan kedua tim negosiasi di wilayah Amerika Serikat. Ia menuturkan, “Pihak Amerika mengajukan agar delegasi Ukraina dan Rusia duduk bersama di Amerika Serikat, dengan opsi lokasi di Miami dalam waktu dekat.”
Terkait target waktu, Zelensky menyebut Washington menginginkan penyelesaian konflik sebelum pertengahan tahun. Menurutnya, “Mereka menyampaikan harapan agar seluruh proses bisa dirampungkan pada Juni mendatang.”
Upaya diplomatik yang dipimpin Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II disebut meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Namun, perbedaan mendasar antara Moskow dan Kyiv masih bertahan, terutama terkait persoalan wilayah.
Rusia, yang saat ini menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, mendorong pengakuan penuh atas kendalinya di kawasan timur, termasuk Donetsk, sebagai bagian dari kesepakatan damai. Moskow juga memperingatkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer apabila perundingan tidak menghasilkan hasil yang diinginkan.
Di sisi lain, Ukraina menilai penyerahan wilayah justru akan membuka peluang agresi baru dari Rusia di masa depan. Kyiv memberi sinyal tidak akan menyetujui perjanjian apa pun yang gagal menjamin pencegahan serangan lanjutan.
Sejak Januari 2026, Amerika Serikat telah memediasi dua putaran negosiasi di Abu Dhabi. Pertemuan tersebut menghasilkan pertukaran tahanan dalam jumlah besar, tetapi belum mampu memecahkan kebuntuan terkait isu teritorial. Baik pihak Rusia maupun Ukraina sama-sama mengakui proses dialog berjalan sulit. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan