Bom Meledak Saat Rukuk, Jemaah Berguguran di Dalam Masjid

ISLAMBAD — Ledakan bom bunuh diri mengguncang sebuah masjid Syiah di kawasan Tarlai, pinggiran ibu kota Pakistan, sesaat setelah pelaksanaan salat Jumat pada Jumat (06/02/2026). Serangan yang kemudian diklaim kelompok radikal Islamic State (ISIS) tersebut menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai lebih dari 169 lainnya.

Perkembangan informasi mengenai tragedi itu terus dihimpun hingga Sabtu (07/02/2026), ketika otoritas Pakistan menegaskan jumlah korban serta kronologi kejadian di lokasi ibadah Masjid Imam Bargah Qasr-e-Khadijatul Kubra.

Di rumah sakit Institut Ilmu Kedokteran Pakistan, para korban termasuk anak-anak terlihat berdatangan dalam kondisi luka berat. Sebagian dibawa menggunakan tandu, sementara lainnya dipapah keluarga maupun relawan dengan pakaian berlumuran darah.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan pemerintah akan memburu pelaku hingga tuntas. Ia menyatakan, “Semua pihak yang bertanggung jawab atas aksi teror ini akan ditemukan dan diproses di hadapan hukum.” Serangan tersebut disebut sebagai insiden paling mematikan di Islamabad sejak September 2008, ketika bom truk bunuh diri menghantam Hotel Marriott dan menewaskan sekitar 60 orang.

Wakil Perdana Menteri Ishaq Dar turut mengecam keras peristiwa tersebut. Menurutnya, “Tindakan ini merupakan kejahatan serius terhadap kemanusiaan sekaligus pelanggaran nyata terhadap nilai-nilai Islam, dan Pakistan tetap bersatu melawan terorisme dalam bentuk apa pun.”

Kesaksian di lokasi menyebut pelaku sempat dihentikan di pintu gerbang sebelum akhirnya meledakkan diri. Seorang sumber keamanan mengatakan, “Penyerang berhasil dicegat di gerbang, tetapi kemudian memicu bahan peledak yang dibawanya.”

Seorang jemaah, Muhammad Kazim (52), menggambarkan ledakan terjadi saat salat baru dimulai. Ia menuturkan, “Ketika memasuki rukuk pertama terdengar suara tembakan, lalu tak lama kemudian ledakan besar mengguncang area masjid.”

Saksi lain, Imran Mahmood, menyebut sempat terjadi baku tembak antara pelaku dan relawan keamanan sebelum detonasi. Ia menjelaskan, “Pelaku mencoba bergerak maju, namun seorang relawan yang terluka sempat menembaknya dari belakang hingga mengenai paha, sebelum akhirnya bahan peledak diledakkan.”

Kelompok ISIS kemudian mengklaim bertanggung jawab melalui pernyataan yang dipantau SITE Intelligence Group, dengan menyebut seorang militan menargetkan para jemaah menggunakan rompi peledak yang menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka.

Serangan pada 6 Februari 2026 yang informasinya terus diperbarui hingga 7 Februari 2026 itu kembali menyoroti ancaman terhadap tempat ibadah di Pakistan serta meningkatnya kekhawatiran atas aktivitas kelompok ekstremis di kawasan tersebut. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com