DPRD Samarinda Soroti Tragedi Siswa SD DI NTT Bunuh diri

SAMARINDA – Peristiwa meninggalnya seorang bocah yang merupakan siswa kelas IV sekolah dasar di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyita perhatian publik. Kejadian tersebut menimbulkan duka mendalam sekaligus keprihatinan berbagai pihak, mengingat korban masih berada pada usia anak-anak dan tengah menempuh pendidikan dasar.

Kasus kematian siswa sekolah dasar itu diduga berkaitan dengan persoalan ekonomi keluarga. Berdasarkan informasi yang berkembang, korban disebut mengalami tekanan setelah meminta uang sebesar Rp10.000. Peristiwa ini kemudian memicu diskusi luas mengenai dampak kemiskinan terhadap kondisi sosial dan psikologis anak, khususnya di wilayah dengan keterbatasan akses ekonomi.

Tragedi tersebut mendapat perhatian dari anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Ismail Latisi. Ia menyampaikan rasa sedih dan keprihatinan yang sangat mendalam serta turut berduka cita atas meninggalnya siswa sekolah dasar di NTT tersebut. Menurutnya, kejadian ini merupakan peristiwa kemanusiaan yang harus menjadi perhatian bersama, tidak hanya bagi pemerintah daerah setempat, tetapi juga seluruh pemangku kepentingan.

“Kami menyampaikan rasa sedih dan keprihatinan yang sangat mendalam serta duka cita adanya kasus siswa di NTT bunuh diri karena minta uang Rp10.000,” ujar Latisi kepada awak media saat ditemui di kantor DPRD Samarinda, Jalan Basuki Rahmat, Senin (09/02/2025).

Latisi menegaskan bahwa negara harus hadir secara nyata dalam melindungi dan menjamin kesejahteraan anak-anak. Ia menilai tanggung jawab pemerintah dan sekolah tidak cukup hanya pada penyelenggaraan pendidikan formal semata. Faktor kemiskinan serta persoalan kesehatan, baik fisik maupun mental, juga harus menjadi perhatian serius dalam menciptakan lingkungan yang aman dan layak bagi tumbuh kembang anak.

“Negara harus hadir, sekolah dan pemerintah tidak hanya pendidikan yang dituntaskan, tapi juga faktor kemiskinan, kemudian masalah yang lain seperti kesehatannya,” kata politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.

Selain peran negara dan lembaga pendidikan, Latisi menekankan pentingnya kepekaan sosial masyarakat. Ia menilai dalam sejumlah kasus, informasi mengenai kemiskinan atau kondisi sosial warga di daerah terpencil tidak selalu sampai kepada pemerintah. Akibatnya, keluarga yang membutuhkan bantuan kerap luput dari perhatian program sosial yang tersedia.

Menurutnya, masyarakat sekitar memiliki peran strategis untuk menyampaikan informasi kepada pemerintah apabila menemukan warga yang mengalami kesulitan ekonomi, terutama yang berdampak pada anak-anak. Dengan adanya kepedulian sosial, pemerintah dapat segera melakukan tindak lanjut melalui bantuan sosial maupun pendampingan yang diperlukan.

“Kepekaan sosial masyarakat, karena bisa saja informasi kemiskinan di daerah tidak sampai ke pemerintah, sehingga jika ada kepekaan masyarakat bisa menyampaikan informasi kepada pemerintah untuk kemudian bisa dapat ditindaklanjuti, artinya kolaborasi semua pihak untuk menanggulangi kasus seperti ini jadi penting,” tutur wakil rakyat dari daerah pemilihan Kecamatan Samarinda Ilir, Samarinda Kota, dan Sambutan ini.

Peristiwa meninggalnya siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada tersebut diharapkan menjadi refleksi bersama mengenai pentingnya kehadiran negara serta kepedulian sosial dalam menjamin hak-hak anak. Tragedi ini tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi pengingat bahwa persoalan kemiskinan dan perlindungan anak masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus ditangani secara serius oleh seluruh pihak. []

Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com