Gambar Ilustrasi

Tanah Laut Darurat Kecelakaan, Generasi Muda Paling Banyak Jadi Korban

TANAH LAUT — Tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Tanah Laut sepanjang 2025 menjadi sorotan serius aparat kepolisian. Dari total 103 peristiwa kecelakaan, sebagian besar dipicu oleh kelalaian pengendara, menjadikan wilayah ini tercatat sebagai daerah dengan insiden kecelakaan tertinggi di Kalimantan Selatan.

Berdasarkan data Satlantas Polres Tanah Laut yang dihimpun Selasa (10/02/2026), terdapat 92 kasus kecelakaan yang berawal dari kesalahan manusia di jalan raya. Dampaknya tidak ringan, 53 orang meninggal dunia, 13 orang luka berat, serta 128 orang lainnya mengalami luka ringan.

Kasat Lantas Polres Tanah Laut, Iptu Aditya Riazki Ridhotomo, menilai sebagian besar insiden berakar dari pelanggaran aturan berkendara. “Kecelakaan umumnya bermula dari perilaku tidak tertib, seperti berbelok tanpa memperhatikan arus, menerobos marka atau rambu, hingga kecerobohan saat menyalip kendaraan lain,” ungkapnya.

Dari sisi lokasi, kecelakaan paling sering terjadi di jalan nasional dengan 72 kejadian, disusul jalan desa 18 kejadian dan jalan kabupaten 13 kejadian. Tingginya mobilitas kendaraan dan kecepatan di jalur utama dinilai meningkatkan risiko tabrakan.

Adapun waktu rawan kecelakaan tercatat pada pukul 15.00–18.00 Wita dengan 23 kejadian, kemudian pukul 12.00–15.00 Wita sebanyak 19 kejadian. Sementara itu, pagi hari pukul 06.00–09.00 Wita terjadi 15 kejadian, dan pukul 18.00–21.00 Wita tercatat 14 kejadian.

Kelompok usia produktif mendominasi korban maupun pelaku kecelakaan. Rentang usia 22–29 tahun menjadi penyumbang terbesar, disusul usia 17–21 tahun serta kelompok usia di atas 60 tahun. Bahkan, korban terbanyak berada pada usia 20–24 tahun dengan 40 orang terlibat.

Menurut Aditya, kondisi ini patut menjadi perhatian bersama. “Fakta bahwa generasi muda paling banyak menjadi korban tentu sangat memprihatinkan dan harus menjadi pengingat bagi semua pihak,” katanya.

Selain faktor manusia, kondisi infrastruktur turut berperan. Jalan berlubang memicu enam kecelakaan, sedangkan jalan licin atau tergenang air menyebabkan lima kejadian. Meski begitu, sebagian besar kecelakaan justru terjadi di jalan lurus, bukan di tikungan maupun persimpangan.

Ia menegaskan jumlah korban meninggal dalam satu tahun seharusnya dapat ditekan melalui kepatuhan berlalu lintas. “Angka korban jiwa ini adalah alarm keras. Kecelakaan selalu diawali pelanggaran, sehingga disiplin berkendara menjadi kunci melindungi diri dan keluarga,” tegasnya.

Memasuki 2026, Satlantas Polres Tanah Laut berkomitmen memperkuat langkah pencegahan serta meningkatkan kesadaran masyarakat agar angka kecelakaan dapat ditekan. “Sebagian besar kecelakaan sebenarnya bisa dicegah. Keselamatan di jalan adalah tanggung jawab bersama,” pungkas Aditya. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com