TARAKAN — Pemerintah Kota Tarakan memperkuat langkah pengendalian harga kebutuhan pokok menjelang sejumlah momentum besar keagamaan. Upaya tersebut dibahas dalam High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang digelar pada Senin (09/02/2026) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara.
Forum koordinasi triwulanan ini menjadi ruang konsolidasi lintas sektor guna memastikan stabilitas harga serta ketersediaan pasokan pangan menjelang perayaan Imlek, Ramadan, hingga Idulfitri 1447 Hijriah.
Wali Kota Tarakan, Khairul, menegaskan tantangan utama inflasi di wilayah kepulauan seperti Tarakan masih berkaitan erat dengan keterbatasan suplai dari dalam daerah. “Ketergantungan terhadap pasokan luar daerah membuat stabilitas harga sangat sensitif terhadap gangguan distribusi,” ujarnya, sebagaimana dilansir laman resmi Pemerintah Kota Tarakan.
Data terkini menunjukkan inflasi Kota Tarakan secara tahunan pada Januari 2026 berada di angka 4,31 persen, sedangkan inflasi bulanan tercatat minus 0,15 persen dengan Indeks Harga Konsumen 107,84. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibanding inflasi tahunan Provinsi Kalimantan Utara yang berada pada level 4,08 persen.
Khairul menjelaskan kemampuan produksi pangan lokal, khususnya beras, masih terbatas dan baru mampu memenuhi sebagian kecil kebutuhan masyarakat. “Produksi beras lokal kita masih sekitar 15 persen dari total kebutuhan. Karena itu, penguatan distribusi dan pengawasan stok menjadi sangat penting,” katanya.
Ia meminta seluruh unsur TPID mempererat koordinasi, mempercepat pemantauan lapangan, serta menjaga kelancaran rantai pasok agar lonjakan harga dapat ditekan, terutama menjelang hari besar keagamaan yang biasanya diikuti peningkatan permintaan. “Kita harus memastikan ketersediaan barang tetap aman sehingga daya beli masyarakat tidak terganggu,” tegasnya. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan