KETAPANG — Kasus dugaan keracunan makanan dalam Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, masih menyisakan satu pasien yang menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Sementara ratusan korban lainnya telah dipulangkan setelah kondisi mereka membaik.
Kepala Program MBG Regional Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, menyampaikan bahwa pasien yang masih dirawat berada di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang dengan keluhan utama pada bagian perut.
“Saat ini tinggal satu orang yang masih menjalani perawatan di RSUD dr. Agoesdjam. Pasien lain, baik yang sempat dirujuk maupun yang dirawat di Puskesmas Marau, sudah kembali ke rumah masing-masing,” ujarnya, Rabu (11/02/2026).
Secara keseluruhan, insiden tersebut berdampak pada 417 orang yang terdiri atas siswa, tenaga pendidik, hingga relawan program MBG. Sebagian besar korban sempat mendapat penanganan medis di Puskesmas Marau, sedangkan tiga orang dirujuk ke rumah sakit kabupaten.
Pasien yang masih dirawat diketahui mengalami gejala lebih berat dibanding korban lain, seperti demam tinggi hingga kejang, setelah sebelumnya merasakan mual, pusing, dan muntah. “Pasien yang tersisa masih dalam pengobatan karena keluhan di bagian perut dan sebelumnya sempat mengalami demam tinggi disertai kejang,” kata Agus.
Pihak pengelola program menyatakan terus melakukan pemantauan kondisi korban sekaligus evaluasi menyeluruh guna mencegah kejadian serupa. Koordinasi dengan Dinas Kesehatan serta koordinator wilayah MBG di Ketapang juga disebut berlangsung secara berkala. “Kami terus berkoordinasi untuk memperbarui data kesehatan korban serta memastikan langkah penanganan berjalan optimal,” tambahnya.
Hingga kini, hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan maupun muntahan korban masih belum diumumkan. Namun, dugaan awal mengarah pada salah satu menu yang disajikan, yakni perkedel tahu yang diproses pada malam hingga dini hari sebelum didistribusikan. “Indikasi sementara mengarah pada perkedel tahu yang diproduksi pada malam hari dan diolah kembali dini hari sebelum dibagikan,” jelas Agus.
Menu MBG yang dikonsumsi korban pada hari kejadian terdiri dari nasi putih, gulai telur, perkedel tahu, tumis sayur, serta puding. Keluhan kesehatan mulai dirasakan setelah makanan tersebut disantap, meski sebagian korban awalnya mengira hanya gangguan ringan sehingga tidak segera berobat.
Laporan resmi baru diterima pengelola pada Kamis pagi (05/02/2026) setelah banyak siswa dilaporkan tidak masuk sekolah akibat mual dan muntah. Peristiwa ini kini masih dalam proses penelusuran lebih lanjut sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebagai dasar penetapan penyebab pasti. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan