Pangkalan Strategis Ditinggal, Peta Perang Suriah Berubah

DAMASKUS – Peta militer di Suriah kembali berubah setelah Amerika Serikat memastikan penarikan pasukannya dari pangkalan Al-Tanf yang berada di pertemuan perbatasan Suriah, Yordania, dan Irak. Kepastian itu disampaikan pada Kamis (12/02/2026), menandai berakhirnya salah satu titik kehadiran militer penting Washington di wilayah tersebut.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut proses penarikan dilakukan secara terencana dan berlangsung tanpa gangguan. Otoritas militer AS menekankan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari penyesuaian strategi terhadap dinamika keamanan terbaru di lapangan. “Seluruh personel telah keluar dari Al-Tanf melalui prosedur yang tertib dan terkoordinasi,” demikian pernyataan resmi militer AS.

Meski meninggalkan pangkalan itu, Washington menegaskan operasi melawan kelompok ekstremis belum berakhir. Kepala CENTCOM Laksamana Brad Cooper menilai tekanan terhadap jaringan ISIS harus terus dipertahankan demi melindungi kepentingan keamanan Amerika Serikat sekaligus menjaga stabilitas kawasan. “Ancaman ISIS belum sepenuhnya hilang, sehingga kesiapsiagaan pasukan tetap menjadi prioritas,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah Suriah menyatakan telah mengambil alih penuh area Al-Tanf. Kementerian Pertahanan Suriah melaporkan unit militernya mulai ditempatkan di sepanjang koridor perbatasan tiga negara di sekitar lokasi tersebut. “Kendali atas wilayah Al-Tanf kini berada di tangan angkatan bersenjata Suriah dan penguatan posisi pertahanan segera dilakukan,” kata pernyataan kementerian.

Selama bertahun-tahun konflik Suriah dan operasi melawan ISIS, pasukan AS ditempatkan di wilayah timur laut yang dikuasai kelompok Kurdi serta di pangkalan Al-Tanf. Pasukan Demokratik Suriah (SDF) menjadi mitra utama koalisi pimpinan AS hingga ISIS kehilangan wilayah teritorialnya pada 2019.

Namun perubahan politik setelah runtuhnya pemerintahan lama Bashar al-Assad lebih dari setahun lalu mendorong pendekatan baru Washington terhadap Damaskus. Suriah bahkan menyatakan kesediaannya bergabung dalam koalisi anti-ISIS saat Presiden Ahmed al-Sharia berkunjung ke Gedung Putih pada November lalu.

Meski kekuatan teritorial ISIS telah runtuh, aktivitas kelompok tersebut masih terjadi. Serangan bersenjata di Palmyra pada Desember lalu menewaskan dua tentara Amerika dan seorang warga sipil. Dalam dua bulan terakhir, militer AS mengklaim telah menewaskan atau menangkap lebih dari 50 anggota ISIS melalui operasi balasan di Suriah. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com