PERJALANAN hidup Petrus Higang menjadi potret ketekunan seorang anak pedalaman yang tidak menyerah pada keterbatasan. Lahir dari keluarga petani sederhana di Ujoh Bilang, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, pada 27 Desember 1957, ia tumbuh dalam kondisi serba terbatas. Akses pendidikan yang sulit dan kehidupan ekonomi yang pas-pasan justru membentuk karakter kuat yang mengantarkannya hingga kini dipercaya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Mahakam Ulu.
Dalam wawancara eksklusif dengan awak redaksi Beritaborneo.com, M. Reza Danuarta, Petrus Higang menceritakan masa kecilnya yang penuh perjuangan, ketika harus meninggalkan kampung halaman demi melanjutkan sekolah hingga ke Long Iram dan Balikpapan. Berbekal beasiswa, ia menempuh pendidikan kesehatan dan mengabdikan diri sebagai tenaga medis di daerah terpencil sebelum akhirnya memasuki dunia politik dan terpilih menjadi wakil rakyat.
Kini sebagai anggota DPRD Mahakam Ulu Komisi III, Petrus Higang tetap memegang prinsip hidup sederhana dan menjadikan jabatan sebagai sarana pelayanan bagi masyarakat. Ia menegaskan bahwa tugas seorang wakil rakyat adalah menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah, memperjuangkan aspirasi rakyat, serta memastikan pembangunan benar-benar dirasakan oleh masyarakat Mahakam Ulu.
Lahir di Ujoh Bilang pada 27 Desember 1957, Petrus Higang tumbuh dalam kesederhanaan keluarga petani di pedalaman Mahakam Ulu. Masa kecilnya jauh dari kata mudah. Keterbatasan ekonomi, akses pendidikan yang minim, hingga perjuangan hidup sehari-hari membentuk karakter mandiri dan tangguh yang terus melekat hingga kini, saat ia duduk sebagai anggota DPRD Mahakam Ulu. Berikut petikan wawancaranya:

Berita Borneo: Bisa ceritakan perjalanan hidup Anda hingga akhirnya mengabdi menjadi wakil rakyat di Mahakam Ulu?
Petrus Higang: Saya dulu Pegawai Negeri Sipil. Tahun 2013, (setelah) perubahan undang-undang PNS menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara), saya pensiun. Saya tidak sempat menjadi ASN. Setelah itu, saya diajak bergabung dengan Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya). Singkat cerita, saya langsung diberi tugas sebagai Ketua PAC (Pimpinan Anak Cabang di tingkat kecamatan). Saya aktif rapat dan kegiatan partai. Waktu pencalonan 2019, saya tidak daftar di awal, tapi akhirnya bisa masuk dan terpilih. Setelah satu periode, saya sempat ingin berhenti, tapi diminta lanjut dan akhirnya saya terpilih lagi.
Berita Borneo: Saat kecil dulu, mungkin tidak terbayang kalau saat ini bakal menjadi orang besar, anggota dewan, sebenarnya bagaimana masa kecil Anda dulu?
Petrus Higang: Masa kecil saya betul-betul suram. Orang tua saya petani, tidak ada gaji. Hidup dari ladang untuk kebutuhan sendiri. Sekolah juga sulit. Di kampung tidak ada SMP (Seolah Menengah Pertama), jadi saya harus sekolah ke Long Iram (berjarak sekitar tiga jam perjalanan sungai yang terdapat sejumlah riam berbahaya). Dulu makan nasi pun pernah yang kualitasnya sangat buruk. Tapi dari situ saya belajar berjuang.
Berita Borneo: Di masa itu, hidup di hulu sungai, pasti sangat sulit menempuh pendidikan, tapi Anda bisa berhasil, bagaimana ceritanya?
Petrus Higang: Setelah SMP di Long Iram, saya melanjutkan ke Sekolah Pengatur Rawat di Balikpapan dengan beasiswa. Waktu itu tidak ada kiriman dari orang tua, jadi hidup hanya mengandalkan beasiswa. Setelah itu saya bekerja sebagai tenaga kesehatan. Kemudian saya melanjutkan pendidikan D3 (diploma tiga, program pendidikan vokasi yang ditempuh selama tiga tahun) kesehatan di Samarinda. Semua saya jalani dengan sungguh-sungguh.
Berita Borneo: Bagaimana pengalaman Anda selama bekerja di bidang kesehatan?
Petrus Higang: Dulu perawat itu harus bisa semua. Tidak ada dokter, kami yang menolong persalinan, mengurus obat, laboratorium, semuanya. Saya juga pernah memimpin Puskesmas (pusat kesehatan masyarakat). Pengalaman itu membentuk saya menjadi pekerja yang melayani masyarakat.
Berita Borneo: Pernah menjadi pimpinan Puskesmas, itu termasuk dalam ‘zona nyaman’ bagi seorang PNS, tapi Anda memilih pensiun dini, justru terjun ke dunia politik. Apa yang melatarbelakanginya?
Petrus Higang: Saya diajak masuk Gerindra. Awalnya tidak ada niat politik karena keluarga saya tidak ada yang terjun ke politik. Tapi saya lihat kalau mau memperjuangkan masyarakat lebih luas, harus melalui politik. Dari situ saya maju dan terpilih menjadi anggota DPRD Mahakam Ulu. Saya memaknai tugas di dewan sama seperti pelayanan di kesehatan. Dewan itu jembatan suara masyarakat ke pemerintah. Jadi tugas saya melayani masyarakat, memperjuangkan kebutuhan mereka agar kehidupan mereka lebih baik.
Berita Borneo: Sebagai wakil rakyat, apa tugas pokok Anda jalankan saat ini?
Petrus Higang: Saya di Komisi III yang bermitra dengan sekitar 10 OPD (organisasi perangkat daerah), seperti Dinas Kesehatan, PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), dan lainnya. Saya fokus pada pengawasan dan anggaran. Saya sering mengkritisi pemerintah karena menurut saya belum semua program menyentuh masyarakat. Data kemiskinan di Mahakam Ulu masih tinggi, itu harus jadi perhatian serius.
Berita Borneo: Apa tantangan terbesar Anda sebagai wakil rakyat?
Petrus Higang: Tantangannya adalah keterbukaan anggaran dan komunikasi dengan OPD. Kadang (kami) tidak mendapatkan data yang jelas. Saya sering protes karena ingin semua transparan. Bagi saya, kita harus jujur kepada masyarakat dan tidak boleh membohongi mereka.
Berita Borneo: Bagaimana keseharian Anda di luar aktivitas sebagai anggota dewan?
Petrus Higang: Saya tetap hidup sederhana. Saya bekerja di kebun, memperbaiki rumah, bahkan menyetir sendiri. Saya tidak membanggakan diri sebagai anggota dewan. Kalau nanti saya tidak terpilih lagi, saya kembali menjadi masyarakat biasa.
Berita Borneo: Apa filosofi hidup Anda dalam mengabdi?
Petrus Higang: Pengabdian itu pelayanan. Kita dipilih rakyat, jadi harus merakyat. Kalau kita tidak turun ke masyarakat, kita bukan lagi perwakilan rakyat. Saya ingin tetap dekat dengan masyarakat dan memperjuangkan mereka.
Berita Borneo: Apakah ada sosok yang menginspirasi hidup Anda?
Petrus Higang: Saya tidak mengagumi tokoh tertentu. Saya mandiri. Saya tidak mau dikomando orang. Sejak awal saya bekerja di daerah terpencil, memimpin sendiri, mengatur sendiri. Itu yang membentuk karakter saya.
Berita Borneo: Apa pesan Anda untuk masyarakat Mahakam Ulu, khususnya generasi muda?
Petrus Higang: Saya berharap masyarakat tetap berjuang, bekerja keras, dan tidak bergantung. Generasi muda harus berani maju dan berusaha. Daerah ini butuh anak-anak muda yang mau membangun dan membawa perubahan. []
Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Hadi Purnomo
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan