Oleh: Amy Maulana
Expert Rusia-Indonesia, ANO Center for Mediastrategi
Indonesia dinilai mengedepankan pendekatan pragmatis dalam politik luar negeri dengan fokus pada stabilitas energi dan perluasan akses pasar global.
MOSKOW – Arah politik luar negeri Indonesia dinilai semakin pragmatis dengan menitikberatkan pada kepentingan nasional, khususnya stabilitas energi dan perluasan akses pasar global. Pendekatan ini tidak lagi berfokus pada dikotomi “pro-Rusia” atau “pro-Amerika”, melainkan pada upaya menjaga kepastian pasokan energi bagi sekitar 270 juta penduduk Indonesia serta membuka peluang kerja sama ekonomi yang lebih luas.
Dalam konteks tersebut, pembukaan ruang kerja sama dengan Rusia dipandang sebagai langkah realistis. Negara tersebut memiliki sumber daya energi yang melimpah, harga yang kompetitif, serta menawarkan skema pembayaran yang lebih fleksibel di luar sistem keuangan Barat. Bagi Indonesia yang tengah membutuhkan jaminan pasokan energi untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional, opsi kerja sama ini menjadi relevan secara strategis.
Selain itu, Rusia berpotensi memperkuat posisinya sebagai mitra strategis di kawasan Asia Tenggara jika skema kerja sama dengan Indonesia berjalan efektif. Selama ini, pengaruh Rusia di kawasan masih berada di bawah Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang. Namun, dengan adanya peluang kerja sama baru, termasuk kemungkinan penerapan sistem pembayaran alternatif dan diversifikasi jalur suplai energi, posisi Rusia dapat semakin meningkat di kawasan.
Dari perspektif regional, keberhasilan Indonesia dalam menjalin kerja sama ini juga berpotensi mendorong negara-negara anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) untuk mengikuti langkah serupa. Dalam skenario tersebut, Indonesia berperan sebagai pionir dalam membangun pola kerja sama baru, sementara Rusia berpeluang menjadi salah satu pusat energi global.
Di sisi lain, kebijakan ini tidak terlepas dari risiko politik. Tantangan datang dari dinamika domestik, termasuk kritik dari pihak-pihak yang menilai kerja sama dengan Rusia sebagai langkah yang kontroversial. Selain itu, tekanan eksternal juga dapat muncul dari negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat dan sekutunya, di tengah situasi geopolitik global yang masih diwarnai rezim sanksi terhadap Rusia.
Meski demikian, langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan energi, memperluas ruang manuver ekonomi, serta menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang mandiri dalam menentukan arah kebijakan luar negeri. Pendekatan tersebut mencerminkan transformasi Indonesia sebagai aktor yang semakin aktif dan independen di panggung global. []
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan