Penurunan Jemaat Picu Sejumlah Gereja di Eropa Beralih Fungsi Jadi Masjid

Penurunan jumlah jemaat, tingginya biaya pemeliharaan bangunan, dan meningkatnya populasi Muslim menjadi faktor utama alih fungsi sejumlah gereja menjadi masjid di berbagai negara Eropa.

LONDON – Penurunan jumlah jemaat Kristen di sejumlah negara Eropa, diikuti meningkatnya populasi Muslim dan tingginya biaya perawatan bangunan ibadah, mendorong sejumlah gereja beralih fungsi menjadi masjid melalui mekanisme jual beli. Fenomena tersebut telah berlangsung selama beberapa dekade di berbagai negara, termasuk Inggris, Belanda, dan Jerman.

Salah satu contoh terjadi di London, Inggris, ketika Gereja Methodist yang dibangun pada 1743 beralih fungsi menjadi Brick Lane Mosque sekitar 50 tahun lalu. Bangunan itu dibeli oleh komunitas Muslim yang mayoritas berasal dari Bangladesh dan India, seiring bertambahnya jumlah penduduk Muslim di kawasan tersebut.

Perubahan serupa juga terjadi di Kota Clitheroe, Lancashire, Inggris. Gereja Bukit Sion telah difungsikan sebagai masjid sejak 2006. Sebelum menjadi tempat ibadah umat Islam, bangunan tersebut sempat dimanfaatkan sebagai toko dan pabrik garmen.

Di Belanda, Masjid Al Hikmah yang dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan masyarakat Indonesia sebelumnya merupakan Gereja Immanuel. Bangunan itu dibeli oleh pengusaha Probosutedjo pada dekade 1990-an dengan nilai sekitar satu juta gulden, kemudian diserahterimakan kepada jemaah Indonesia pada 1 Juli 1996.

Fenomena serupa juga terlihat di Jerman. Gereja Lutheran Capernaum di Kota Hamburg resmi beralih fungsi menjadi Masjid Al-Nour pada 2018 setelah proses pembelian selesai dilakukan.

Perubahan fungsi sejumlah gereja tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya jumlah jemaat, meningkatnya biaya pemeliharaan bangunan, serta bertambahnya kebutuhan tempat ibadah bagi komunitas Muslim di beberapa negara Eropa.

Media Deutsche Welle pernah mengulas fenomena tersebut pada 2023. Berdasarkan data yang dipublikasikan, jumlah jemaat yang meninggalkan Gereja Katolik di Jerman mencapai 522.821 orang sepanjang 2022, meningkat dibandingkan 359.338 orang pada 2021.

Fenomena penurunan jumlah jemaat di Jerman juga dikaitkan dengan sejumlah persoalan internal gereja, termasuk kasus pelecehan seksual yang melibatkan pastor, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Selasa (29/07/2026), mengutip Deutsche Welle. []

Redaksi1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com