Konsumsi Pertalite Naik 12 Persen, Antrean SPBU Kobar Jadi Sorotan

Pertamina memastikan stok BBM di Kobar masih aman, sementara antrean di sejumlah SPBU dipengaruhi pergeseran konsumsi dari Pertamax ke Pertalite.

KOTAWARINGIN BARAT – Pergeseran konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dari Pertamax ke Pertalite diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), meski ketersediaan stok BBM di daerah tersebut dinyatakan masih aman.

Data Perseroan Terbatas (PT) Pertamina Patra Niaga menunjukkan konsumsi Pertamax di Kobar turun sekitar 32 persen setelah terjadi penyesuaian harga. Sebaliknya, konsumsi Pertalite meningkat sekitar 12 persen sehingga beban penyaluran BBM bersubsidi di sejumlah SPBU ikut bertambah.

Kondisi tersebut dibahas dalam rapat koordinasi penyaluran dan pendistribusian BBM yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kobar bersama Pertamina dan pengelola SPBU di Ruang F.A.D. Pati Anom, Lantai 2 Kantor Bupati Kobar, Rabu (29/07/2026).

Rapat yang dipimpin Bupati Kobar Nurhidayah itu digelar untuk mengidentifikasi penyebab antrean sekaligus menyusun langkah pengendalian agar distribusi BBM kepada masyarakat berlangsung tertib dan tepat sasaran.

“Rapat koordinasi ini kita lakukan setelah monitoring situasi yang terjadi dalam penyaluran BBM, rapat ini penting untuk menjawab berbagai permasalahan yang disampaikan baik secara langsung kepada pemerintah daerah maupun melalui berbagai media sosial yang ada,” ujar Nurhidayah, sebagaimana dilansir Mmc Kobar, Kamis, (30/07/2026).

Nurhidayah menegaskan Pemkab Kobar akan memperkuat koordinasi dengan Pertamina, pengelola SPBU, dan instansi terkait untuk memastikan pasokan BBM mampu memenuhi kebutuhan masyarakat serta mencegah antrean berkepanjangan.

Sementara itu, Sales Branch Manager II Fuel Kalimantan Tengah PT Pertamina Patra Niaga Lucky Harianto memastikan stok BBM di Kobar masih berada dalam kondisi aman. Menurutnya, antrean tidak semata-mata disebabkan persoalan ketersediaan pasokan, tetapi juga dipengaruhi perubahan pola konsumsi masyarakat.

“Realisasi konsumsi Pertamax mengalami penurunan sekitar 32 persen, sementara realisasi penggunaan Pertalite justru meningkat sekitar 12 persen, pergeseran konsumsi inilah yang turut memengaruhi kondisi antrean di sejumlah SPBU,” jelas Lucky.

Pertamina kemudian meningkatkan pemantauan ketahanan stok di setiap SPBU, termasuk mengawasi distribusi dari depo menuju lembaga penyalur. Setiap SPBU juga diminta mengoptimalkan pengelolaan persediaan melalui pemeriksaan stok awal setiap pagi, evaluasi penyaluran harian, dan perencanaan kebutuhan untuk hari berikutnya.

Langkah lain dilakukan dengan mengatur jam operasional dan antrean kendaraan, menambah nosel pengisian Pertalite di sejumlah SPBU, serta meningkatkan koordinasi dengan aparat penegak hukum untuk mencegah penyalahgunaan BBM bersubsidi.

Pertamina juga mengalihkan sebagian pasokan BBM dari luar daerah ke SPBU dalam kota, memblokir akun kode batang atau barcode yang terindikasi disalahgunakan, mengusulkan penambahan kuota Pertamax, serta meningkatkan pemahaman petugas SPBU mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP).

Pengawasan juga diperkuat terhadap penggunaan sistem kode respons cepat atau quick response code (QR code) dalam pembelian BBM bersubsidi. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan penyaluran Pertalite diterima konsumen yang berhak dan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan yang melanggar ketentuan.

Melalui koordinasi tersebut, Pemkab Kobar, Pertamina, dan seluruh pengelola SPBU berkomitmen menjaga kestabilan pasokan serta memperbaiki pengelolaan distribusi. Evaluasi pola konsumsi dan pengawasan penyaluran diharapkan dapat mengurangi antrean sekaligus menjamin kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com