15 Gajah Amboseli Mati, Dugaan Pestisida Dipertanyakan

Temuan jejak sianida pada 15 gajah yang mati di ekosistem Amboseli memicu perdebatan mengenai pestisida ilegal, peracunan, dan konflik penggunaan lahan di koridor satwa Kenya.

KIMANA – Kematian 15 gajah dalam kurun sekitar satu bulan di ekosistem Amboseli, Kenya, memunculkan perdebatan mengenai dampak perluasan pertanian dan lemahnya pengawasan bahan kimia di koridor satwa. Dinas Margasatwa Kenya atau Kenya Wildlife Service (KWS) menduga gajah-gajah tersebut terpapar pestisida yang mengandung sianida, tetapi teori itu diragukan petani dan pemerhati konservasi.

Kasus tersebut terjadi di kawasan Kimana yang menjadi koridor pergerakan satwa antara Taman Nasional Amboseli dan Taman Nasional Tsavo di bagian selatan Kenya. Wilayah yang membentang hingga perbatasan Tanzania itu menjadi tempat lebih dari 2.000 gajah mencari makanan dan air.

Pertanian, termasuk perkebunan tomat, berkembang pesat di kawasan tersebut karena memperoleh aliran air dari Gunung Kilimanjaro. Namun, pertumbuhan lahan pertanian juga mempersempit ruang jelajah gajah dan meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar.

KWS sebelumnya melaporkan sejumlah gajah yang mati menunjukkan tanda-tanda “kelumpuhan sebagian”. Pemeriksaan sampel dari perut gajah juga menemukan jejak sianida yang diduga berasal dari pestisida di perkebunan tomat sekitar koridor satwa.

Kepala dokter hewan KWS Isaac Lekolool, sebagaimana dilansir Cnn Indonesia, Rabu, (05/08/2026), mengatakan penyebab kematian gajah belum dapat dipastikan karena kasus serupa belum pernah mereka temui.

“Sulit untuk memastikannya karena kami belum pernah menjumpai kasus seperti ini sebelumnya. Kejadian ini hampir bisa dikatakan kasus yang sangat langka, dan semuanya terjadi dalam kurun waktu sekitar satu bulan,” kata Lekolool.

Menurut dugaan awal KWS, gajah-gajah tersebut mungkin memakan tanaman yang sebelumnya disemprot pestisida. Namun, lembaga itu belum mengesampingkan kemungkinan adanya tindakan peracunan yang disengaja.

“Bisa jadi tidak disengaja. Mungkin orang-orang mencoba mengendalikan hama pada tanaman dan mungkin itu jadi sumbernya,” kata Lekolool.

Dugaan pestisida sebagai penyebab kematian gajah ditolak sejumlah pemilik lahan. Mereka menilai penggunaan bahan kimia pertanian telah berlangsung lama tanpa pernah menyebabkan kematian satwa dalam jumlah besar seperti yang terjadi kali ini.

Daniel Nina, yang mewakili sejumlah pemilik lahan di kawasan Kimana, mengatakan masyarakat setempat telah lama hidup berdampingan dengan gajah dan satwa liar lainnya.

“Kami telah hidup berdampingan dengan satwa liar ini selama beberapa dekade dan belum pernah mengalami hal seperti ini,” kata Daniel Nina, yang mewakili beberapa pemilik lahan di daerah tersebut, kepada BBC.

Keraguan juga muncul karena tidak ditemukan kematian massal pada satwa lain yang mencari makanan di kawasan serupa. Dalam kasus keracunan sebelumnya, dampaknya disebut tidak hanya dialami gajah, tetapi juga zebra dan antelop.

“Bagaimana mungkin sianida membunuh gajah sementara zebra, antelop, dan wildebeest yang makan rumput bersama-sama tetap hidup?” ucapnya.

Sejumlah ahli yang tidak disebutkan namanya juga menilai teori pestisida tidak sepenuhnya sesuai dengan perilaku gajah. Gajah jantan dewasa biasanya lebih berani memasuki dan merusak lahan pertanian dibandingkan gajah betina dan anak-anaknya. Namun, dari 15 gajah yang mati, hanya satu yang merupakan jantan dewasa.

Pemerhati konservasi satwa liar Paula Kahumbu turut mempertanyakan hasil awal KWS. Konservasionis yang telah bekerja bersama gajah selama hampir 30 tahun itu menilai gajah harus mengonsumsi tanaman tercemar dalam jumlah sangat besar agar mengalami keracunan fatal.

“Beberapa informasi telah dirilis ke publik, tetapi informasi tersebut tidak masuk akal. Gajah-gajah itu harus makan dalam jumlah yang sangat besar untuk bisa mati,” ujarnya.

Di sisi lain, laporan pada 2024 yang diterbitkan inisiatif keamanan pangan Kenya, Route to Food, menemukan seorang petani di Kimana menggunakan insektisida dengan bahan aktif berupa senyawa kimia sianida.

Penulis laporan tersebut, Wangunyu Njuguna, mengungkapkan sejumlah bahan kimia pertanian berbahaya yang dilarang di Kenya masih dapat masuk melalui perbatasan Tanzania. Perbedaan standar dan lemahnya pemeriksaan perbatasan dinilai membuka peluang peredaran bahan kimia ilegal.

“Masalah terbesarnya adalah kita tidak menerapkan standar serupa di wilayah ini,” kata Njuguna.

“Tidak ada yang memeriksa apa yang saya beli di perbatasan, jadi saya bisa membeli apa saja dan berjalan melewati perbatasan tanpa ada yang menghentikan saya,” lanjutnya.

Bahan kimia pertanian berbahaya disebut masih umum ditemukan di Kenya dan sebagian telah dikaitkan dengan penyakit serius. Meskipun aturan mengenai penggunaan bahan kimia ilegal telah tersedia, penegakannya dinilai lemah, terutama dalam mengantisipasi dampak terhadap satwa liar.

Perdebatan mengenai penyebab kematian 15 gajah tersebut juga membuka persoalan yang lebih besar, yakni perubahan penggunaan lahan di sekitar kawasan konservasi. Lahan yang sebelumnya menjadi wilayah jelajah gajah kini semakin banyak digunakan untuk pertanian, permukiman, dan penginapan.

Chief Executive Officer (CEO) organisasi konservasi Save the Elephants Frank Pope menilai tekanan terbesar terhadap populasi gajah Amboseli saat ini bukan lagi semata-mata perburuan gading.

“Ini soal penggunaan lahan,” katanya.

Menurut Pope, masyarakat cenderung membuka pertanian di wilayah subur yang memiliki sumber air memadai. Kawasan yang sama juga dibutuhkan gajah untuk mencari air dan makanan sehingga persinggungan antara manusia dan satwa semakin sulit dihindari.

“Orang-orang pindah ke daerah-daerah yang memiliki cukup air untuk menanam tanaman, dan tanah yang subur, dan daerah-daerah itulah yang cenderung digunakan oleh gajah,” simpulnya.

Penyelidikan lanjutan diperlukan untuk memastikan apakah kematian 15 gajah itu disebabkan paparan pestisida, peracunan yang disengaja, atau faktor lain. Kasus tersebut sekaligus menegaskan perlunya pengawasan bahan kimia pertanian, perlindungan koridor satwa, dan penataan penggunaan lahan agar konflik antara manusia dan gajah tidak terus meningkat. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com