BPBD Kotim menyiapkan pemadaman pada waktu subuh, metode khusus kebakaran gambut, dan pengaturan ritme personel untuk menghadapi ancaman Karhutla yang diperkirakan masih berlangsung panjang.
KOTAWARINGIN TIMUR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyiapkan perubahan taktik penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) untuk menghadapi ancaman yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Salah satu strategi yang akan diterapkan adalah mengoptimalkan pemadaman pada waktu subuh ketika kecepatan angin cenderung lebih rendah.
Strategi tersebut disiapkan setelah BPBD Kotim mengevaluasi penanganan sejak status tanggap darurat Karhutla diberlakukan. Evaluasi tidak hanya menyangkut efektivitas pemadaman, tetapi juga pola kerja personel, penanganan kebakaran lahan gambut, serta upaya mengurangi dampak asap terhadap kesehatan masyarakat.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kotim Multazam mengatakan waktu subuh dinilai memberikan kondisi lebih menguntungkan bagi petugas untuk memadamkan api secara menyeluruh karena pergerakan angin relatif lebih rendah.
“Makanya kita akan melakukan pemadaman subuh. Kenapa harus subuh? Karena di jam subuh itu kecepatan angin rendah, sehingga kita bisa padamkan total,” ujar Multazam, sebagaimana diberitakan Beritasampit, Senin, (10/08/2026).
Pemilihan waktu pemadaman menjadi salah satu bagian dari strategi baru yang akan diterapkan Satuan Tugas (Satgas) Karhutla. BPBD Kotim juga menyiapkan skenario penanganan untuk kebakaran yang berpotensi menghasilkan asap dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Menurut Multazam, penanganan Karhutla tidak dapat hanya berfokus pada upaya memadamkan api. Pengendalian asap dan dampak lanjutan kebakaran juga menjadi bagian yang harus diperhitungkan dalam operasi lapangan.
BPBD Kotim karena itu terus mengevaluasi pola kerja Satgas Karhutla dan mencari pendekatan baru yang dinilai lebih efektif, khususnya untuk menangani kebakaran di kawasan gambut yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran pada lahan mineral.
“Kita berharap ada taktikal-taktik baru yang tentunya sudah teruji di akademisi yang kemudian bisa kita pergunakan, kita bisa aplikasikan pada proses pemadaman gambut,” jelasnya.
Penanganan kebakaran gambut, menurut Multazam, membutuhkan metode khusus agar api benar-benar dapat dipadamkan sekaligus tetap mempertimbangkan proses pemulihan alami kawasan setelah kebakaran.
Penerapan strategi baru juga berkaitan dengan kondisi personel di lapangan. BPBD Kotim berupaya mengatur ritme kerja petugas karena operasi Karhutla diperkirakan masih berlangsung cukup panjang. Saat ini, personel rata-rata bekerja lebih dari 12 jam sehari, bahkan sebagian mencapai 16 hingga 18 jam.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena ancaman Karhutla belum berakhir. BPBD Kotim memperkirakan periode penanganan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan seiring potensi cuaca yang mendukung terjadinya kebakaran.
“Perjalanannya masih panjang. Kita paling baru 2/5 lah, atau 1/6 malah. Bahkan bulan Juli baru saja kita lewati. Lima bulan ke depan lagi kita masih, kalau BMKG sampaikan kan ancaman masih terjadi,” pungkasnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi salah satu rujukan BPBD dalam membaca potensi ancaman cuaca selama periode Karhutla. Dengan kombinasi pemadaman saat subuh, penerapan metode khusus pada lahan gambut, dan pengaturan ritme kerja personel, BPBD Kotim berharap operasi penanganan dapat berlangsung lebih efektif sekaligus menekan risiko asap terhadap masyarakat. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan