Thailand mempercepat transformasi pertanian dengan memanfaatkan IoT, drone, citra satelit, dan AI sekaligus meningkatkan keterampilan petani serta penyuluh agar produksi lebih efisien dan adaptif terhadap perubahan iklim.
BANGKOK – Thailand mulai mengandalkan teknologi digital untuk mengubah pola pengelolaan pertanian, dengan sensor Internet of Things (IoT), drone, citra satelit, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) diarahkan untuk menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan kemampuan petani menghadapi perubahan iklim.
Transformasi tersebut menjadi bagian dari strategi pertanian Thailand pada 2026-2027. Pemerintah tidak hanya mendorong penggunaan perangkat digital di lahan pertanian, tetapi juga menyiapkan petani dan tenaga penyuluh agar mampu memanfaatkan teknologi tersebut dalam pengambilan keputusan.
Menurut Direktur Jenderal Departemen Penyuluhan Pertanian Thailand Peerapan Korthong, pertanian cerdas menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan efisiensi sektor pertanian pada 2026. Teknologi digunakan untuk mengurangi kebutuhan tenaga kerja dan biaya, meski penerapannya tetap harus disesuaikan dengan jenis tanaman serta kemampuan finansial petani.
Langkah itu sejalan dengan pengembangan teknologi pertanian Thailand yang semakin luas. Pemerintah Thailand, misalnya, mendorong pemanfaatan drone melalui pusat pembelajaran dan pelatihan petani untuk mengurangi biaya, meningkatkan hasil panen, serta memperkuat keterampilan pertanian cerdas.
Korthong menyebut strategi pertanian Thailand pada 2026-2027 mencakup perubahan peran petugas penyuluh pertanian. Mereka diarahkan tidak hanya memberikan pendampingan mengenai teknik budidaya, tetapi juga menjadi pelatih teknologi dan keuangan bagi petani.
Selain itu, pemerintah menyiapkan standar dan sertifikasi bagi penyedia layanan teknologi pertanian. Peningkatan keterampilan petani dan petugas dalam menggunakan perangkat digital serta AI juga menjadi bagian dari strategi tersebut.
Pengembangan pertanian berbasis teknologi itu tidak semata diarahkan untuk mengejar produktivitas. Thailand juga menghubungkannya dengan pengembangan pertanian yang ramah iklim dan menghasilkan komoditas bernilai tinggi.
Pemerintah Thailand dalam sejumlah program terbaru juga mengaitkan digitalisasi pertanian dengan pengelolaan sumber daya yang lebih efisien. Pelatihan digital bagi petani mencakup penggunaan sensor IoT untuk memperoleh data kondisi air secara waktu nyata, sehingga keputusan mengenai penanaman dan irigasi dapat dilakukan berdasarkan data.
Penggunaan drone pun terus diperluas. Data pemerintah Thailand menunjukkan teknologi tersebut dapat membantu petani melakukan pemetaan lahan, menganalisis data, menyusun rencana budidaya, serta melakukan pemupukan dan perlindungan tanaman secara lebih presisi.
Perubahan tersebut berlangsung di tengah posisi Thailand sebagai salah satu negara pertanian utama di Asia. Beras, durian, dan manggis merupakan sejumlah komoditas yang memiliki peran penting dalam kegiatan pertanian dan perdagangan negara tersebut.
Beras Thailand selama ini dikenal luas, termasuk varietas Jasmine yang menjadi salah satu produk ekspor premium. Sementara itu, durian dan manggis juga menjadi komoditas hortikultura yang dipasarkan ke berbagai negara, dengan China sebagai salah satu tujuan utama.
Besarnya sektor pertanian membuat efisiensi produksi menjadi persoalan penting bagi Thailand. Karena itu, teknologi tidak hanya diposisikan sebagai perangkat tambahan, tetapi mulai diarahkan menjadi bagian dari sistem produksi, pengelolaan sumber daya, peningkatan keterampilan, hingga pemasaran hasil pertanian.
Pengembangan pertanian cerdas juga menunjukkan bahwa transformasi digital Thailand tidak berhenti pada pembelian perangkat. Pemerintah berupaya membangun kemampuan petani agar teknologi dapat digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing wilayah.
Dalam strategi tersebut, keberhasilan digitalisasi pertanian pada akhirnya bergantung pada kemampuan petani mengubah data dan teknologi menjadi keputusan yang berdampak terhadap biaya, produktivitas, ketahanan terhadap perubahan iklim, serta nilai ekonomi hasil pertanian, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Selasa, (22/09/2026). []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan