Masa pengerahan USS Abraham Lincoln yang mencapai 263 hari menjadi sorotan setelah muncul laporan bentrokan yang menewaskan sedikitnya tujuh personel dan memicu kekhawatiran keluarga mengenai kondisi awak kapal.
WASHINGTON DC – Masa pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln selama ratusan hari tanpa kepastian kepulangan awak menjadi sorotan setelah muncul laporan mengenai bentrokan di dalam kapal yang disebut menewaskan sedikitnya tujuh personel Angkatan Laut Amerika Serikat (AS). Insiden tersebut terjadi ketika tekanan terhadap sekitar 5.000 pelaut dan Marinir AS dilaporkan meningkat akibat panjangnya masa penugasan.
Laporan mengenai bentrokan itu muncul di tengah kekhawatiran keluarga personel militer AS mengenai kelelahan, kondisi kesehatan mental, serta keselamatan awak yang menjalani tugas berkepanjangan. Informasi tersebut sebagaimana dilansir Press TV, Rabu (12/08/2026), mengutip laporan Tasnim News Agency yang bersumber dari seorang sumber militer yang disebut terpercaya.
Menurut laporan tersebut, persoalan bermula ketika seorang penasihat untuk Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Brad Cooper datang ke USS Abraham Lincoln untuk merespons keluhan awak kapal. Keluhan itu antara lain berkaitan dengan lamanya masa penugasan kapal induk dan belum adanya kepastian mengenai waktu kepulangan para personel.
Kedatangan penasihat tersebut disebut mendapat penolakan dari sebagian awak. Ia dilaporkan mendapat cemoohan dan lemparan botol air ketika berbicara di hadapan personel Angkatan Laut AS yang berkumpul.
Situasi kemudian berkembang menjadi konfrontasi fisik antarawak kapal. Laporan Tasnim menyebut sejumlah pisau dan senjata tajam digunakan dalam perkelahian tersebut. Sedikitnya tujuh personel militer AS dilaporkan tewas, sementara sejumlah personel lainnya mengalami luka-luka.
Laporan mengenai korban tersebut belum mendapatkan konfirmasi langsung dari militer AS maupun Gedung Putih. Karena itu, informasi mengenai jumlah korban dan kronologi bentrokan masih bersumber dari laporan media Iran dan belum diverifikasi secara independen.
Persoalan masa pengerahan menjadi konteks penting dalam insiden tersebut. USS Abraham Lincoln disebut telah menjalani pengerahan selama 263 hari dan berada di lautan selama 208 hari berturut-turut. Masa tersebut dilaporkan menjadi salah satu periode pengerahan tanpa henti terlama bagi kapal induk AS di era modern.
Kapal induk tersebut saat ini dilaporkan beroperasi di Samudra Hindia dengan misi utama mendukung blokade laut yang diberlakukan Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. USS Abraham Lincoln juga disebut hanya sempat singgah sebentar di Oman pada Juli sebelum kembali menjalankan tugasnya.
Panjangnya masa penugasan turut memicu keresahan keluarga personel. Dalam sebuah pertemuan di San Diego, AS, sekitar 200 kerabat personel militer AS disebut menyampaikan keberatan kepada Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao mengenai kondisi awak kapal dan belum adanya tanggal pasti untuk kepulangan mereka.
Kekhawatiran keluarga tidak hanya berkaitan dengan lamanya personel berada di laut, tetapi juga dampaknya terhadap kemampuan awak menjalankan tugas secara aman. Kelelahan dan tekanan psikologis menjadi perhatian ketika ribuan personel harus terus menjalankan operasi dalam periode pengerahan yang panjang.
Insiden di USS Abraham Lincoln dengan demikian menambah sorotan terhadap beban operasional yang harus ditanggung awak kapal induk AS selama perang dan ketegangan dengan Iran. Kepastian mengenai kondisi personel, penyebab bentrokan, serta langkah militer AS untuk menangani situasi tersebut masih menunggu penjelasan resmi. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan