Sebanyak 2.052 kasus ISPA tercatat di 14 kabupaten/kota di Kalteng selama 7-11 Agustus 2026, sementara kualitas udara sejumlah wilayah memburuk seiring meluasnya karhutla.
PALANGKA RAYA – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mulai menekan kesehatan masyarakat. Sebanyak 2.052 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat di 14 kabupaten/kota selama 7-11 Agustus 2026, di tengah memburuknya kualitas udara pada sejumlah wilayah akibat meluasnya kebakaran.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng, Ahmad Toyib, mengatakan pada 11 Agustus 2026 saja tercatat 600 kasus baru ISPA dan sembilan pasien harus menjalani rawat inap.
“Kasus tertinggi tercatat di Palangka Raya (115 kasus) dan Kotawaringin Barat (111 kasus), meningkat 39,2 persen dibandingkan 7 Agustus. Kondisi udara sebagian wilayah berada pada kategori sedang hingga tidak sehat,” bebernya, sebagaimana diberitakan Kompas, Rabu (12/08/2026).
Memburuknya kondisi kesehatan masyarakat terjadi bersamaan dengan penurunan kualitas udara di sejumlah daerah. Berdasarkan pemantauan BPBPK Kalteng, Kabupaten Katingan dan Kabupaten Barito Selatan berada dalam kategori Tidak Sehat, sementara enam wilayah lainnya masuk kategori Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif.
Sementara itu, Kabupaten Kotawaringin Barat tercatat masih memiliki kualitas udara kategori Baik. Pemantauan di sejumlah daerah lainnya belum dapat dilakukan secara optimal karena keterbatasan perangkat.
“Kotawaringin Barat berada pada kategori Baik dengan ISPU 21, sementara pemantauan di Sukamara belum tersedia, AQMS Pulang Pisau rusak, dan AQMS Kapuas masih dalam persiapan operasional,” beber Toyib di Palangka Raya, Rabu (12/08/2026).
Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) digunakan untuk menggambarkan kondisi kualitas udara, sedangkan Air Quality Monitoring System (AQMS) merupakan perangkat pemantauan kualitas udara secara otomatis.
Di tengah penurunan kualitas udara tersebut, penanganan karhutla terus diperkuat. BPBPK Kalteng mencatat pemantauan dilakukan terhadap 514 titik panas atau hotspot, sedangkan patroli dilakukan pada 125 titik yang berpotensi mengalami kebakaran.
Satuan Tugas (Satgas) penanganan karhutla juga mengerahkan operasi udara berupa pemadaman menggunakan water bombing serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
“Satgas juga melakukan water bombing di Sebangau Kuala dan Petuk Katimpun serta OMC di Kotawaringin Timur dengan penyemaian 1.000 kilogram garam untuk mendukung pemadaman,” jelasnya.
Berdasarkan rekapitulasi periode 10-11 Agustus 2026, tercatat 55 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 99,481 hektare. Sementara pembaruan pada 11 Agustus mencatat 43 kejadian tersebar di tujuh wilayah. Data tersebut masih terus diperbarui berdasarkan laporan dan hasil verifikasi di lapangan.
Pemantauan karhutla juga dilakukan menggunakan 28 kamera yang ditempatkan pada 12 titik di empat kabupaten. Hingga pukul 13.00 WIB, tiga kepulan asap terpantau di Kota Palangka Raya dan Kotawaringin Barat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng melalui Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) terus melakukan konsolidasi dan verifikasi data kejadian dari seluruh kabupaten dan kota.
Kondisi lahan yang relatif kering menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kebakaran. Potensi hujan pada periode 11-18 Agustus 2026 juga masih berada pada kategori rendah hingga sedang.
“Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena kondisi lahan relatif kering dan potensi hujan masih berada pada kategori rendah hingga sedang pada periode 11–18 Agustus 2026,” jelasnya.
Di Posko Masyarakat Peduli Api (MPA) Kameloh Baru, cuaca terpantau cerah dan kering tanpa hujan sehingga risiko terjadinya karhutla masih tinggi. Petugas melakukan apel, patroli pencegahan, pemantauan sumber air, sosialisasi kepada masyarakat, serta pemadaman dan pembasahan titik api di Jalan Mahir Mahar/Trans Kalimantan Kilometer 22 bersama Manggala Agni.
Dari sisi kesehatan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalteng bersama Dinkes kabupaten dan kota terus memantau perkembangan kasus ISPA, memberikan pelayanan kesehatan dan edukasi kepada masyarakat, serta membagikan masker. Pemantauan kesehatan petugas lapangan dan penyaluran oksigen portabel juga dilakukan.
Penanganan masih menghadapi sejumlah kendala, di antaranya keterbatasan masker dan obat-obatan serta gangguan jaringan komunikasi dan listrik yang memengaruhi proses pelaporan. Data kasus ISPA juga masih memerlukan validasi karena penyakit tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, tidak hanya paparan asap karhutla.
“Masyarakat diimbau tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan titik api atau kepulan asap,” ucapnya.
Toyib menegaskan tim gabungan akan terus meningkatkan pemantauan, patroli, pemadaman, penyekatan, pembasahan, dan pendinginan berdasarkan kondisi lapangan serta perkembangan cuaca. Upaya tersebut dilakukan untuk menekan perluasan karhutla sekaligus mengurangi paparan asap yang berpotensi memperburuk kualitas udara dan kesehatan masyarakat Kalteng. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan