Tekanan kemarau dan meningkatnya risiko karhutla mendorong penguatan pemantauan kesehatan, kesiapsiagaan daerah, pendidikan, serta kapasitas kader Posyandu di sejumlah wilayah Kalsel.
TABALONG – Kemarau dan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi benang merah sejumlah perkembangan di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Rabu (19/8), dengan dampak yang mulai terlihat pada kesehatan masyarakat, kesiapsiagaan daerah, hingga penguatan pelayanan dasar.
Tekanan akibat kondisi tersebut tercermin dari pemantauan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tapin, sementara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabalong dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Hulu Sungai Utara (HSU) memperkuat kewaspadaan menghadapi ancaman karhutla dan kekeringan.
Informasi tersebut menjadi bagian dari sejumlah perkembangan ekonomi dan kesejahteraan rakyat (kesra) di Kalsel yang diberitakan Antara, Kamis, (20/08/2026). Selain persoalan lingkungan dan kesehatan, perkembangan lain mencakup capaian pendidikan anak usia dini di Banjarmasin serta peningkatan kapasitas kader pos pelayanan terpadu (Posyandu).
Di Tapin, perhatian diarahkan pada kondisi kesehatan masyarakat di tengah meningkatnya ancaman karhutla. Pemantauan ISPA dilakukan sebagai bagian dari upaya mengantisipasi dampak kualitas udara yang dapat muncul ketika kebakaran menghasilkan asap.
Ancaman karhutla juga mendorong Pemkab Tabalong menggelar apel kesiapsiagaan yang mencakup penanganan kebakaran dan kekeringan. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah daerah mulai memperkuat kesiapan menghadapi kondisi lingkungan yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat.
Kewaspadaan serupa disampaikan Pemkab HSU dengan mengajak masyarakat meningkatkan perhatian terhadap potensi karhutla. Pelibatan masyarakat menjadi penting karena pencegahan kebakaran tidak hanya bergantung pada kesiapan pemerintah dan petugas, tetapi juga perilaku warga di tengah kondisi lahan yang rawan terbakar.
Di luar isu lingkungan, perkembangan sektor pendidikan menunjukkan partisipasi pendidikan anak usia dini di Banjarmasin mencapai 90,5 persen. Angka tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan layanan pendidikan dasar bagi anak di daerah tersebut.
Sementara itu, penguatan pelayanan kesehatan masyarakat dilakukan melalui peningkatan keterampilan 25 kader Posyandu di Kabupaten Tabalong dan Balangan. Adaro dan AlamTri Group bersama Yayasan Amanah Bangun Negeri (YABN) memberikan pelatihan keterampilan dasar kader Posyandu bidang kesehatan untuk memperkuat kapasitas mereka dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar.
Rangkaian perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat Kalsel tidak hanya berkaitan dengan ancaman karhutla selama kemarau, tetapi juga menyentuh kesehatan, pendidikan, dan kapasitas pelayanan masyarakat. Penguatan kesiapsiagaan lingkungan yang berjalan bersamaan dengan peningkatan layanan dasar diharapkan dapat menjaga pelayanan publik tetap berjalan di tengah tekanan musim kemarau. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan