Guterres Segera Lengser, 8 Tokoh Berebut Kursi Sekjen PBB

Delapan kandidat dari Amerika Latin, Afrika, dan kawasan lainnya bersaing menggantikan Antonio Guterres sebagai Sekretaris Jenderal PBB mulai 2027, dengan Rebeca Grynspan disebut sebagai salah satu kandidat terkuat.

NEW YORK – Persaingan untuk menduduki posisi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah Antonio Guterres berakhir pada Desember 2026 mulai mengerucut pada delapan nama dari berbagai kawasan. Dari delapan kandidat tersebut, Rebeca Grynspan dari Kosta Rika disebut sebagai salah satu kandidat terkuat berdasarkan jajak pendapat informal awal.

Pemilihan pengganti Guterres diperkirakan berlangsung ketat karena kandidat harus mengamankan sedikitnya sembilan dari 15 suara anggota Dewan Keamanan (DK) PBB. Perolehan suara tersebut juga tidak boleh digagalkan oleh hak veto salah satu dari lima anggota tetap DK PBB.

Komposisi kandidat kali ini didominasi tokoh dari Amerika Latin. Lima perempuan dan tiga laki-laki tercatat masuk dalam persaingan untuk memimpin organisasi dunia tersebut selama lima tahun mendatang.

Grynspan menjadi salah satu nama yang mendapat perhatian setelah sebelumnya menjabat wakil presiden Kosta Rika dan kini memimpin badan perdagangan dan pembangunan PBB (UNCTAD). Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang terlibat dalam upaya diplomatik untuk memungkinkan ekspor gandum melalui Black Sea Grain Initiative pada 2022 di tengah perang Rusia-Ukraina.

Kandidat asal Kosta Rika itu mengambil cuti dari tugasnya di UNCTAD untuk mengikuti proses pencalonan. Grynspan juga pernah mengkritik PBB dan menyebut organisasi tersebut telah berubah menjadi apa yang ia sebut sebagai “organisasi yang konservatif terhadap risiko”.

Selain Grynspan, mantan Presiden Chile Michelle Bachelet turut menjadi kandidat. Perempuan berusia 74 tahun itu sebelumnya pernah memimpin bidang hak asasi manusia PBB setelah menjalani karier politik hingga menjadi presiden perempuan pertama Chile pada 2006.

Bachelet menilai sekretaris jenderal PBB membutuhkan “suara moral” untuk memimpin organisasi tersebut, termasuk ketika menghadapi tekanan dari negara-negara besar. Pencalonannya mendapat dukungan Meksiko dan Brasil, sementara Chile menarik dukungan setelah Jose Antonio Kast menjabat sebagai presiden.

Nama lain berasal dari Ekuador, yakni Maria Fernanda Espinosa. Mantan menteri luar negeri Ekuador tersebut pernah menjadi Presiden Majelis Umum PBB dan mengusulkan sistem “peringatan dini” untuk mendeteksi tanda-tanda konflik sebelum berkembang menjadi krisis.

Espinosa menyebut PBB sebagai satu-satunya platform universal untuk menangani tantangan bersama umat manusia. Pencalonannya didukung Antigua dan Barbuda, meski belum memperoleh dukungan dari pemerintah negaranya sendiri.

Kandidat lainnya adalah Rafael Grossi, diplomat Argentina yang sejak 2019 memimpin Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Pencalonannya berlangsung ketika isu nuklir Iran dan keamanan pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia di Ukraina masih menjadi perhatian internasional.

Grossi memilih tetap menjalankan tugasnya sebagai pimpinan IAEA selama proses pencalonan. Ia menyebut pengunduran diri dari jabatan tersebut untuk berkampanye akan menjadi “pengabaian terhadap tugas”.

Dari Guyana, terdapat Carolyn Rodrigues-Birkett yang kini menjadi duta besar negaranya untuk PBB. Mantan menteri luar negeri berusia 52 tahun itu menilai organisasi dunia tersebut perlu memulihkan “kredibilitasnya” di tengah sorotan global.

“PBB dinilai melalui perspektif perdamaian dan keamanan. Namun, PBB jauh lebih luas dari itu dan memberikan banyak sekali kontribusi – dalam pembangunan, dalam hak asasi manusia,” katanya.

Ekuador juga memiliki kandidat lain, yakni Ivonne A-Baki. Diplomat berusia 75 tahun itu pernah menjadi duta besar Ekuador untuk Amerika Serikat dan Qatar serta terlibat dalam mediasi hubungan Ekuador-Peru setelah konflik perbatasan pada 1995.

“Saya telah mengalami kehancuran akibat perang,” tulisnya di media sosial.

“Saya siap membantu memperbarui janji dasar Piagam PBB: menyelamatkan generasi-generasi mendatang dari bencana perang.”

Sementara itu, mantan Presiden Senegal Macky Sall menjadi satu-satunya kandidat yang bukan berasal dari Amerika Latin. Pria berusia 64 tahun itu menekankan hubungan erat antara perdamaian dan pembangunan.

Sall diusulkan Burundi, yang saat ini menjadi ketua Uni Afrika, dan kemudian memperoleh dukungan pemerintah Senegal untuk maju dalam pemilihan. Namun, rekam jejak pemerintahannya juga menjadi sorotan setelah otoritas Senegal menuduhnya melakukan penindasan terhadap demonstrasi politik pada 2021 hingga 2024.

Kandidat terakhir adalah Olara Otunnu dari Uganda. Ia pernah menjadi wakil sekretaris jenderal PBB sekaligus perwakilan khusus untuk anak-anak dan konflik bersenjata pada 1997-2005 di bawah Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan.

Persaingan delapan kandidat tersebut belum menghasilkan nama yang benar-benar aman. Selain jumlah suara yang dibutuhkan, keputusan akhir sangat bergantung pada sikap negara anggota tetap DK PBB yang memiliki hak veto. Profil dan dukungan politik masing-masing kandidat karena itu akan menjadi faktor penting hingga proses pemilihan pengganti Guterres memasuki tahap berikutnya, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Jumat, (21/08/2026). []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com