Perang Iran Belum Berakhir, Klaim Trump Jadi Sorotan

Sejumlah media internasional menyoroti berulangnya klaim kemenangan Donald Trump dalam perang melawan Iran meski konflik masih berlangsung dan peluang perdamaian belum jelas.

WASHINGTON, D.C. – Klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai kemenangan dalam perang melawan Iran terus dipertanyakan setelah konflik berlangsung lebih dari enam bulan tanpa tanda-tanda perdamaian yang meyakinkan. Sejumlah media internasional menyoroti pola pernyataan Trump yang berulang kali menyebut perang hampir berakhir, tetapi kemudian kembali diikuti ancaman tindakan militer terhadap Teheran.

Sorotan itu antara lain datang dari National Broadcasting Company (NBC) News yang pada Juli mencatat sedikitnya 32 pernyataan Trump mengenai perang Iran yang disebutnya hampir selesai. Namun, konflik tersebut masih berlangsung hingga kini.

“Sebuah tinjauan NBC News menemukan puluhan contoh di mana Trump mengatakan perang telah dimenangkan atau hampir dimenangkan: komentar yang sering diikuti oleh ancaman tindakan militer lebih lanjut,” tulis NBC News, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Jumat (21/08/2026).

Media Inggris The Guardian kemudian mengutip penghitungan CNN Internasional yang menyebut Trump telah menyampaikan klaim kemenangan terhadap Iran sebanyak 38 kali hingga Juni. Jumlah tersebut diperkirakan bertambah karena Trump kembali mengeluarkan pernyataan serupa setelah periode tersebut.

Pola pernyataan tersebut menjadi sorotan karena ancaman militer Trump beberapa kali diikuti keputusan untuk menunda atau membatalkan serangan setelah muncul klaim mengenai kemajuan perundingan. Kondisi itu membuat arah konflik dan peluang tercapainya kesepakatan damai masih sulit dipastikan.

The Times of Israel juga menyoroti perubahan sikap Trump selama konflik. Media Israel tersebut mencatat beberapa kesempatan ketika Trump menyampaikan ancaman keras terhadap Iran, tetapi kemudian mengambil langkah lebih lunak dengan alasan adanya perkembangan dalam proses negosiasi.

Pada awal April, AS dan Iran disebut menyepakati gencatan senjata selama dua pekan setelah Trump sebelumnya memberikan tenggat kepada Teheran untuk menyerah atau menghadapi serangan terhadap jembatan dan pembangkit listrik. Ancaman itu disertai peringatan bahwa serangan tersebut akan membuat “seluruh peradaban akan mati.”

Pada 18 Mei, Trump mengumumkan penundaan serangan militer besar yang sebelumnya direncanakan dengan alasan “negosiasi serius” sedang berlangsung. Ia juga memuji negara-negara Teluk yang disebut telah mendorongnya untuk menahan diri.

Ancaman kembali muncul pada Juni. Trump menyatakan akan menyerang Iran “SANGAT KERAS” dan merebut pangkalan energi Iran di Pulau Kharg untuk “mengambil kendali penuh atas Pasar Minyak dan Gas mereka.” Namun, rencana tersebut kemudian dibatalkan setelah Trump menyatakan perundingan dengan para pemimpin Iran mengalami kemajuan.

Perhatian terbaru tertuju pada pernyataan Trump mengenai Selat Hormuz. Trump mengatakan, “Setelah kita selesai mengalahkan Iran, yang sedang mengalami kekalahan telak, sebentar lagi saya akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat.”

Trump juga menyatakan, “Pada dasarnya, seperti itulah keadaannya. Kita telah melakukan blokade. Tidak ada kapal yang bisa melewatinya kecuali jika kita mengizinkannya.”

The Guardian menilai belum jelas apakah pernyataan mengenai Selat Hormuz tersebut merupakan sikap politik baru pemerintahan Trump atau sekadar pernyataan dalam rangkaian retorika selama konflik. Sementara itu, perang yang berkepanjangan dan belum adanya kepastian perundingan menunjukkan bahwa klaim kemenangan belum otomatis berarti konflik telah berakhir. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com