Kebakaran melanda sekitar 50 hektare lahan di lima RT Kelurahan Pendingin, Sangasanga, dengan pemadaman terkendala medan rawa dan gambut, keterbatasan air, serta sulitnya akses menuju titik api.
KUTAI KARTANEGARA – Medan rawa dan gambut, minimnya sumber air, serta sulitnya akses menuju titik kebakaran menjadi kendala utama pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas sekitar 50 hektare di Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Sejumlah titik api masih dipantau karena berpotensi kembali membesar dan merembet ke permukiman warga.
Kebakaran melanda sejumlah lokasi di Rukun Tetangga (RT) 03, RT 05, RT 09, RT 11, dan RT 02 Kelurahan Pendingin pada Rabu (19/08/2026). Berdasarkan pendataan sementara, luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 50 hektare.
Sebagian titik kebakaran berada di lahan milik warga dan lahan milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) yang disebut tidak dikelola atau dirawat secara optimal. Semak belukar dan vegetasi yang mengering di kawasan tersebut membuat api lebih mudah menjalar.
Kepolisian Sektor (Polsek) Sangasanga bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI), petugas pemadam kebakaran, perusahaan, relawan, dan masyarakat dikerahkan untuk mengendalikan kebakaran. Penanganan dilakukan setelah polisi menerima laporan mengenai munculnya api di sejumlah titik.
Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kukar Khairul Basyar melalui Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Sangasanga Wahid mengatakan seluruh unsur terkait masih melakukan pemantauan dan pengendalian di sekitar area kebakaran.
“Penanganan dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan TNI, Damkar, perusahaan, relawan dan masyarakat. Saat ini seluruh unsur masih melakukan pemantauan dan pengendalian di sekitar lokasi,” ujar Wahid sebagaimana diberitakan Polres Kutai Kartanegara, Jumat, (21/08/2026).
Petugas menghadapi kesulitan menjangkau sejumlah titik api karena sebagian area merupakan rawa dan lahan gambut yang tidak memiliki akses jalan memadai. Keterbatasan sumber air juga memperlambat upaya pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan maupun peralatan pemadam.
Kondisi lahan gambut membuat penanganan membutuhkan pemantauan lebih lama karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan berpotensi kembali menyala. Petugas karena itu terus mengantisipasi kemungkinan api membesar atau bergerak ke arah permukiman warga.
Penyebab kebakaran hingga kini belum diketahui. Polisi masih melakukan pendalaman dengan memeriksa kondisi lokasi serta meminta keterangan dari warga dan pihak lain yang dinilai mengetahui awal munculnya api.
Dalam penanganan tersebut, Polsek Sangasanga bersama Komando Rayon Militer (Koramil) Sangasanga berkoordinasi dengan Pemadam Kebakaran (Damkar) Kecamatan Sangasanga, relawan pemadam Kelurahan Pendingin, Relawan Kota Juang Sangasanga, PT Equalindo, Pemadam PT Masbro, PT ABN, PT KFI, Relawan Albadar Kelurahan Bantuas, Relawan Kelurahan Sangasanga Muara, serta masyarakat Kelurahan Pendingin.
“Personel Polsek Sangasanga bersama TNI, Damkar, relawan dan masyarakat tetap standby di sekitar lokasi untuk mengantisipasi apabila api kembali membesar atau merembet ke arah permukiman,” tegas Wahid.
Selain memadamkan api, kepolisian melakukan pendataan luas lahan terdampak, pengecekan titik koordinat kebakaran, serta penghitungan kerugian materiil. Perkembangan penanganan juga dilaporkan secara berkala kepada pimpinan.
“Korban jiwa dalam kejadian tersebut nihil, sementara kerugian materiil masih dalam proses pendataan”, jelas Wahid.
Polsek Sangasanga mengimbau masyarakat tidak melakukan kegiatan yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di kawasan lahan kering dan gambut. Warga juga diminta segera melaporkan titik api atau kepulan asap agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin dan kebakaran tidak meluas ke kawasan permukiman. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan