Kabut asap karhutla masih menyelimuti Banjarbaru dan mengganggu kualitas udara, tetapi jarak pandang di Bandara Syamsudin Noor tetap dinilai aman sehingga aktivitas penerbangan berlangsung normal.
BANJARBARU – Aktivitas penerbangan di Bandara Syamsudin Noor, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), tetap berjalan normal meski kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah, Selasa (25/08/2026). Jarak pandang di landasan pacu pada pagi hari tercatat sekitar 3.000 meter dan meningkat hingga 10.000 meter setelah kabut berangsur menipis.
Kabut asap terutama terlihat di kawasan Landasan Ulin dan Guntung Damar yang berada tidak jauh dari Bandara Syamsudin Noor. Meski intensitasnya mulai berkurang dibandingkan sebelumnya, kondisi udara masih dirasakan mengganggu sebagian warga.
General Manager (GM) Bandara Syamsudin Noor Stephanus Millyas Wardana memastikan kondisi tersebut tidak mengganggu jadwal keberangkatan maupun kedatangan pesawat.
“Semua ter-schedule, berjalan normal. Aman untuk penerbangan,” ujar Milyas saat dikonfirmasi, Selasa.
Menurut Milyas, jarak pandang atau visibility di landasan pacu (runway) ketika kabut asap turun pada pagi hari mencapai sekitar 3.000 meter. Kondisi tersebut dinilai masih memungkinkan aktivitas penerbangan berlangsung dengan aman.
“Kabut biasanya pagi aja. Pagi ini visibility 3.000 meter dan sekarang sudah 10.000 meter. Jadi secara keseluruhan normal dan aman,” pungkas Milyas.
Di sisi lain, warga masih merasakan dampak kabut asap terhadap kualitas udara. Mahfuz, warga Kompleks Cahaya Pelangi, Banjarbaru, mengatakan kabut sempat menutupi jalur alternatif menuju Bandara Syamsudin Noor, tetapi tidak sampai membuat jarak pandang membahayakan pengguna jalan, sebagaimana diberitakan Kompas, Selasa, (25/08/2026).
“Kalau ke arah bandara tadi memang sempat berkabut tapi jarak pandang aman karena saya sempat keluar memantau situasi di jalan,” ujar Mahfuz saat dikonfirmasi, Selasa.
Menurut Mahfuz, gangguan yang lebih dirasakan keluarganya adalah penurunan kualitas udara. Ketika kabut muncul pada pagi hari, ia memilih membagikan masker kepada seluruh anggota keluarga sebagai langkah perlindungan.
“Di dalam maupun di luar rumah, semua anggota keluarga pakai masker kalau pagi. Tapi kalau sudah siang, kabutnya sudah mereda dan aman,” beber Mahfuz.
Kabut asap masih terpantau di sejumlah kabupaten dan kota di Kalsel, meski intensitasnya mulai menurun. Di Banjarbaru, kondisi cenderung lebih terasa pada pagi hari sebelum berangsur membaik menjelang siang.
Meski penerbangan tetap berlangsung normal, kondisi kabut asap menunjukkan dampak karhutla belum sepenuhnya berakhir. Pemantauan kualitas udara, jarak pandang, dan perkembangan titik kebakaran tetap diperlukan untuk menjaga keselamatan masyarakat serta memastikan aktivitas transportasi udara tidak terganggu. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan