Konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 Palembang mencapai 235,6 µg/m³ sehingga kualitas udara masuk kategori sangat tidak sehat.
PALEMBANG – Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) mendorong kualitas udara Kota Palembang masuk kategori sangat tidak sehat. Pemantauan pada Kamis (3/9/2026) menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 235,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³) di Stasiun Musi 2 Palembang.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan kualitas udara di Palembang pada dini hari telah berada pada level sangat tidak sehat. Kondisi tersebut terpantau berdasarkan pengukuran Stasiun PM2.5 Musi 2.
“Kualitas udara di Kota Palembang pada Kamis (3/9) pukul 03.00 WIB pada level sangat tidak sehat,” kata Wandayantolis, sebagaimana dikutip Antara, Kamis (3/9/2026).
Menurut Wandayantolis, peningkatan konsentrasi partikulat halus tersebut berkaitan dengan kabut asap yang masuk ke wilayah Palembang. Asap berasal dari karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Sumsel dan terbawa hingga ke kawasan perkotaan.
PM2.5 merupakan particulate matter atau partikel udara berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2,5 mikrometer. Pengukuran konsentrasinya dilakukan menggunakan metode Beta Attenuation Monitoring dengan satuan mikrogram per meter kubik.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 Palembang sempat mencapai angka 235,6 µg/m³. Angka tersebut menempatkan kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat.
Kondisi itu menjadi perhatian karena paparan udara dengan konsentrasi partikulat tinggi dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat, terutama kelompok yang memiliki gangguan pernapasan. Kabut asap juga berpotensi membatasi aktivitas warga di luar ruangan.
Wandayantolis mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara berada dalam kondisi tersebut. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah diminta melakukan perlindungan diri.
“Jika terpaksa harus ke luar rumah, baiknya melindungi diri dengan masker dan kacamata,” pungkasnya.
Pemantauan kualitas udara dan perkembangan karhutla menjadi penting untuk menentukan langkah perlindungan masyarakat. Warga diimbau mengikuti informasi resmi mengenai kondisi udara dan menyesuaikan aktivitas apabila kualitas udara kembali memburuk. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan