Karhutla di Kalsel telah berdampak pada 20.206,06 hektare lahan dengan 2.963 kejadian, sementara kawasan gambut masih menjadi tantangan dalam proses pengendalian api.
BANJARBARU – Luas lahan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) telah mencapai 20.206,06 hektare hingga 10 September 2026, dengan 2.963 kejadian tercatat sejak awal tahun.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat Kabupaten Banjar (Banjar) menjadi wilayah dengan luas karhutla terbesar, yakni sekitar 5.100 hektare. Selanjutnya, Kota Banjarbaru mencapai sekitar 2.539 hektare, disusul Kabupaten Tanah Laut.
Kepala BPBD Kalsel Ronny Eka Saputra mengatakan pengendalian karhutla mulai menunjukkan hasil, tetapi persoalan belum sepenuhnya selesai, terutama di kawasan lahan gambut. Api yang berada di bawah permukaan membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih panjang.
“Meskipun karhutla mulai terkendali, masih terdapat sejumlah titik yang mengeluarkan asap karena berada pada kawasan lahan gambut yang membutuhkan penanganan lebih lama,” ujarnya.
Kondisi tersebut mendorong BPBD Kalsel bersama unsur terkait menggunakan sejumlah metode untuk menangani titik api di lahan gambut. Salah satunya melalui penyuntikan areal gambut menggunakan cairan surfaktan yang diinisiasi Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalsel, serta penggunaan drone termal untuk mendeteksi titik panas.
Ronny mengatakan kombinasi metode tersebut membantu mempercepat pengendalian karhutla. Namun, karakteristik lahan gambut membuat proses penanganan berbeda dibandingkan kebakaran di permukaan karena sumber api dapat bertahan di bawah tanah meskipun kobaran api telah berkurang.
“Api yang berada di bawah permukaan” menjadi salah satu tantangan utama karena titik kebakaran masih dapat menghasilkan asap setelah api terbuka berhasil ditekan. Kondisi ini membuat upaya pemadaman dan pemantauan harus dilakukan secara berkelanjutan.
Data tersebut, sebagaimana diberitakan Antara, Jumat, (11/09/2026), juga menunjukkan tekanan terhadap sumber daya air di Kalsel perlu menjadi perhatian. Sejumlah wilayah sedang mengalami kekeringan sehingga ketersediaan air harus dijaga, baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun mendukung penanganan karhutla.
BPBD Kalsel mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan kegiatan yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk membakar sampah serta membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar tanpa pengawasan yang benar.
Selain mencegah munculnya titik api baru, masyarakat juga diminta menghemat penggunaan air. Langkah tersebut diperlukan agar persediaan air tetap tersedia di tengah kondisi kering dan masih berlangsungnya penanganan karhutla di sejumlah wilayah Kalsel. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan