Sebanyak 90 persen dari 13 hektare area karhutla di Aceh Barat telah dipadamkan, tetapi petugas masih memantau titik asap yang berpotensi membuat api kembali menjalar.
ACEH – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Aceh Barat belum sepenuhnya selesai meski sekitar 90 persen dari total 13 hektare area terbakar telah berhasil dipadamkan. Petugas masih memantau titik asap yang tersisa karena berpotensi memicu penjalaran api kembali.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat Dharmawan mengatakan sebagian besar area terdampak sudah berhasil dikendalikan. Namun, kondisi di lapangan masih memerlukan pemantauan untuk memastikan tidak muncul kembali titik api.
“Alhamdulillah, sebagian besar lahan yang terbakar sudah padam, totalnya mencapai 90 persen,” kata Dharmawan sebagaimana dilansir Antara, Jumat, (11/09/2026).
Karhutla tersebut tersebar di empat kecamatan. Di Kecamatan Johan Pahlawan, kebakaran melanda Desa Blang Beurandang seluas 3 hektare. Sementara di Kecamatan Samatiga, area terdampak berada di Desa Mesjid Baro seluas 5 hektare dan Leukeun 1,5 hektare.
Kebakaran juga terjadi di Desa Simpang, Kecamatan Kaway XVI, dengan luas 2 hektare serta Desa Aron Tunong, Kecamatan Woyla, seluas 1,5 hektare.
Dharmawan menjelaskan penanganan karhutla melibatkan BPBD Aceh Barat, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) IV Aceh, serta masyarakat setempat.
Dalam operasi tersebut, petugas menggunakan dua unit mobil operasional D-Max, satu unit drone pengintai, serta tiga unit mesin air beserta selang untuk menjangkau dan menangani area yang terdampak kebakaran.
Kendala masih ditemui karena sebagian titik api berada di kawasan hutan yang sulit dijangkau. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman dan pemantauan harus dilakukan secara berkelanjutan meskipun sebagian besar area telah berhasil dikendalikan.
“Saat ini masih tersisa titik asap yang berpotensi menjalar jika tidak terus dipantau,” jelasnya.
Selain mengancam kembali meluasnya kebakaran, dampak karhutla juga mulai dirasakan lingkungan dan masyarakat sekitar. Dharmawan mengatakan vegetasi di kawasan terdampak mengalami kerusakan, sedangkan asap kebakaran mulai mengganggu pernapasan warga.
Situasi tersebut membuat keberhasilan pemadaman tidak hanya ditentukan oleh berkurangnya kobaran api, tetapi juga kemampuan petugas memastikan titik asap tidak berkembang menjadi sumber kebakaran baru. Pemantauan di lokasi terdampak menjadi bagian penting untuk mencegah karhutla kembali meluas. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan