Mamdani Hadapi Tekanan saat Peringatan 25 Tahun 9/11

Zohran Mamdani tetap menghadiri peringatan 25 tahun serangan 11 September 2001 meski menghadapi penolakan dan sorotan terkait identitasnya sebagai wali kota Muslim pertama New York.

NEW YORK – Wali Kota New York Zohran Mamdani tetap menghadiri rangkaian peringatan 25 tahun serangan 11 September 2001 meski sebelumnya mendapat desakan dari sejumlah politisi konservatif dan keluarga korban agar tidak mengikuti upacara resmi. Kehadiran Mamdani dinilai penting untuk memastikan penghormatan terhadap korban tetap menjadi fokus, sementara dirinya menghadapi sorotan sebagai wali kota Muslim pertama di kota tersebut.

Mamdani menjalani rangkaian kegiatan peringatan selama beberapa pekan sebelum upacara utama pada Jumat, 11 September 2026. Ia mendatangi pos pemadam kebakaran yang kehilangan banyak anggotanya dalam serangan, termasuk Ladder 118 di Brooklyn serta Engine 24 dan Ladder 5 di SoHo.

Ia juga mengunjungi Rumah Sakit Bellevue untuk bertemu dengan penyintas serangan, keluarga korban, serta pasien yang mengalami gangguan kesehatan berkelanjutan akibat tragedi tersebut. Langkah itu dilakukan sebelum Mamdani menghadiri upacara resmi bersama sejumlah pejabat dan mantan pejabat New York.

“Peringatan ke-25 serangan teror 11 September bukan tentang politisi,” ujar Anna Bahr, juru bicara wali kota, sebagaimana dilansir Metrotvnews, Sabtu, (12/09/2026).

Pada upacara Jumat, Mamdani berdiri bersama Gubernur New York Kathy Hochul, William Hochul, Gubernur New Jersey Mikie Sherrill, serta mantan Gubernur New York George E. Pataki. Pataki sebelumnya termasuk pihak yang mendesak Mamdani tidak menghadiri acara tersebut.

Mereka mengikuti pembacaan nama hampir 3.000 korban yang meninggal dalam serangan di New York, Pentagon, dan Shanksville, Pennsylvania. Mamdani juga menghadiri peletakan karangan bunga untuk mengenang anggota Dinas Pemadam Kebakaran New York serta ibadah lintas agama di Gereja Ortodoks Yunani St. Nicholas dekat Ground Zero.

Tekanan terhadap Mamdani tidak hanya berkaitan dengan kehadirannya dalam upacara. Sebagai wali kota Muslim pertama New York, ia juga menghadapi kembali sorotan mengenai Islamofobia yang berkembang setelah serangan 11 September.

Direktur Eksekutif Muslim Community Network Husein Yatabarry menilai masyarakat Amerika kini lebih menerima umat Muslim yang menduduki jabatan penting. Namun, menurut dia, masih terdapat kelompok sayap kanan yang berupaya membangkitkan sentimen permusuhan terhadap tokoh Muslim.

“Sudah 25 tahun berlalu, dan menurut saya Amerika kini memiliki pemahaman yang lebih baik tentang umat Muslim,” ujar Husein Yatabarry.

“Mereka kini bisa menerima umat Muslim yang memegang jabatan penting maupun jabatan hasil pemilihan umum, dan tidak lagi memandang mereka sebagai sosok yang menakutkan,” imbuhnya.

“Namun, ada kegelisahan di kalangan sayap kanan yang ingin membangkitkan kembali tingkat Islamofobia terhadap tokoh Muslim terkemuka, baik dalam dunia politik maupun kehidupan sehari-hari,” Yatabarry menambahkan.

Mamdani sendiri pernah menjadi sasaran kritik terkait isu tersebut. Pada Maret 2026, Senator Tommy Tuberville dari Partai Republik menggunakan media sosial untuk mengunggah kembali gambar yang menyandingkan kegiatan buka puasa bersama Mamdani dengan peristiwa runtuhnya Menara Kembar. Unggahan tersebut disertai tulisan, “Musuh sudah berada di dalam gerbang.”

Di tingkat lokal, Kepala Eksekutif Nassau County Bruce Blakeman, yang kehilangan keponakannya dalam serangan 11 September, juga mengkritik Mamdani. “Dia memiliki pandangan yang sama dengan orang-orang yang membunuh keponakan saya dan semua orang lainnya itu,” ujar Blakeman dalam sebuah wawancara.

Penolakan terhadap kehadiran Mamdani juga diwujudkan melalui petisi yang diedarkan keluarga korban di Change.org. Petisi tersebut menyatakan bahwa kehadiran wali kota dikhawatirkan mengalihkan perhatian dari suasana duka dan hingga kini telah mengumpulkan lebih dari 96.000 tanda tangan.

Namun, survei Suffolk University pada September menunjukkan mayoritas warga New York justru mendukung kehadiran Mamdani. Hampir 74 persen responden menilai wali kota seharusnya menghadiri upacara tersebut sebagai perwakilan resmi kota.

Mamdani berupaya menjaga agar keterlibatannya tidak menggeser perhatian dari korban. Kunjungannya ke sejumlah pos pemadam kebakaran berlangsung sekitar 30 menit dan ia lebih banyak mendengarkan pengalaman petugas penyelamat serta penyintas.

Dalam salah satu kegiatan pengabdian masyarakat, Mamdani menyebut serangan 11 September sebagai hari paling kelam dalam sejarah New York. Ia juga menyoroti keberanian warga yang menurutnya menunjukkan arti mencintai kota tersebut.

Saat menghadiri peresmian dinding peringatan 11 September oleh Kepolisian New York (NYPD), Mamdani mengisahkan John William Perry, petugas yang sedang mengurus berkas pensiun di Markas Besar Kepolisian ketika serangan terjadi. Perry kemudian meminta kembali lencananya setelah mengetahui tragedi tersebut.

“Setiap petugas yang hadir pada hari itu mencerminkan semboyan NYPD bahwa tugas untuk melindungi bukanlah pekerjaan yang bisa ditinggalkan begitu saja saat jam kerja usai,” ujar wali kota Mamdani dalam upacara tersebut, “melainkan sebuah panggilan yang dijalani hingga akhir hayat.”

Mamdani juga menyampaikan bahwa peringatan tersebut menjadi “kewajiban suci” untuk menghormati para korban dengan membangun kepedulian terhadap sesama. Ia tetap berada di lokasi upacara hingga seluruh nama korban selesai dibacakan.

Pendeta Brian Jordan, yang memimpin ibadah di Ground Zero selama berbulan-bulan setelah serangan, menilai tragedi 11 September merupakan penderitaan bersama yang tidak dapat dilekatkan pada satu kelompok agama.

“Kita semua menderita akibat peristiwa 9/11.”

“Ini bukan hanya untuk umat Katolik, Protestan, atau Yahudi saja,” lanjut Jordan.

“Ada juga Muslim yang tewas dalam peristiwa 9/11, dan orang-orang cenderung melupakan hal itu. Zohran Mamdani bukanlah penyebab serangan mengerikan ini,” ujar Jordan.

Bagi pendukung Mamdani, hasil pemilihan wali kota menjadi gambaran bahwa dukungan terhadap dirinya tidak terbatas pada pemilih Muslim. Ali Najmi, yang merupakan pendukung lama Mamdani sekaligus pemimpin dewan penasihat bidang peradilan, menilai kemenangan tersebut menunjukkan penerimaan yang lebih luas.

“Wali kota berhasil meraih suara dari satu juta orang—yang sebagian besarnya bukan Muslim,” ujar Ali Najmi.

“Islamofobia tidak menang di New York,” pungkas Najmi.

Kehadiran Mamdani dalam peringatan 25 tahun serangan 11 September akhirnya memperlihatkan dua sisi persoalan, yakni penghormatan terhadap korban dan perdebatan mengenai identitas seorang pemimpin Muslim. Di tengah perbedaan sikap tersebut, rangkaian peringatan tetap diarahkan untuk mengenang korban, penyintas, serta para petugas yang kehilangan nyawa dalam tragedi tersebut. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com