Penelitian terhadap susu kecoa mengungkap kristal kaya nutrisi yang mampu menyimpan energi lebih dari tiga kali lipat dibandingkan susu sapi dalam ukuran setara.
BERN – Penelitian tentang susu kecoa mengungkap mekanisme penyimpanan nutrisi yang tidak biasa pada salah satu spesies serangga tersebut. Kristal yang terbentuk dari cairan mirip susu pada Diploptera punctata diketahui mampu menyimpan energi lebih dari tiga kali lipat dibandingkan susu sapi dalam ukuran yang setara.
Temuan itu menjadi dasar kelompok peneliti internasional meraih penghargaan Ig Nobel Kimia pada ajang Ig Nobel ke-36 yang digelar di Swiss pada Kamis (3/9/2026). Penghargaan tersebut diberikan kepada penelitian yang pada awalnya memancing tawa, tetapi kemudian mendorong orang untuk memikirkan lebih jauh temuan yang dihasilkan.
Salah satu objek penelitian ialah Diploptera punctata, yang dikenal sebagai kecoa kumbang Pasifik. Spesies ini termasuk sedikit jenis kecoa yang menghasilkan cairan menyerupai susu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak-anaknya.
Berbeda dari mamalia yang menghasilkan susu melalui kelenjar susu, D. punctata menyimpan cairan tersebut di dalam kantung induknya. Kantung itu menjadi tempat embrio berkembang sekaligus memperoleh asupan nutrisi.
Setelah dikonsumsi embrio, cairan tersebut terkonsentrasi di dalam usus embrio hingga membentuk kristal berukuran kecil. Kristal itu mengandung protein, karbohidrat, dan lipid dengan komposisi yang berbeda-beda.
Para peneliti kemudian mengisolasi kristal protein berukuran lebih besar dari usus tengah embrio D. punctata. Struktur serta kandungan kristal tersebut selanjutnya diuji untuk mengetahui kemampuan penyimpanan nutrisinya.
Hasil penelitian menunjukkan kristal susu kecoa dapat menyimpan nutrisi dalam jumlah tinggi yang mendukung pertumbuhan embrio. Kandungan energinya bahkan disebut jauh lebih tinggi dibandingkan susu sapi.
Satu kristal susu kecoa dapat mengandung energi lebih dari tiga kali lipat dibandingkan susu sapi dengan ukuran yang setara, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Selasa, (15/09/2026), dengan mengutip laporan The Scientist.
Tingginya kandungan energi membuat kristal tersebut berfungsi sebagai sumber makanan yang relatif stabil bagi embrio kecoa selama proses pertumbuhan. Temuan ini sekaligus memperlihatkan cara unik D. punctata menyediakan cadangan nutrisi bagi keturunannya.
Ajang Ig Nobel sendiri memberikan penghargaan kepada penelitian yang mengundang perhatian karena keunikan objek atau pendekatannya, tetapi tetap memiliki nilai untuk mendorong pemikiran ilmiah. Pada penyelenggaraan tahun ini, terdapat 10 penghargaan dengan tema utama “jamur”.
Penelitian mengenai susu kecoa menjadi salah satu contoh bahwa objek penelitian yang terdengar tidak lazim dapat membuka pemahaman mengenai mekanisme biologis tertentu. Dalam kasus D. punctata, kandungan energi tinggi pada kristal susu berperan penting dalam menopang pertumbuhan embrio. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan