Perang melawan Iran menguras persediaan amunisi Amerika Serikat hingga memicu kekurangan inventaris strategis dan menimbulkan kerugian pada armada tempurnya.
WASHINGTON, D.C. – Perang Amerika Serikat melawan Iran mulai membebani persediaan persenjataan dan armada militernya. Laporan Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengungkap penggunaan amunisi dalam jumlah besar hingga memicu kekurangan pada inventaris strategis, sementara empat pesawat tempur F-35 dan puluhan pesawat nirawak dilaporkan hancur selama konflik.
Dalam laporan wajib pertama yang disampaikan kepada Kongres Amerika Serikat, disebutkan bahwa Operasi Epic Fury (OEF) menghabiskan sekitar US$33,4 miliar atau setara Rp590 triliun selama periode 28 Februari hingga 30 Juni. Dari jumlah tersebut, sekitar US$22,3 miliar atau Rp394 triliun digunakan untuk amunisi.
Laporan tersebut menyatakan bahwa “penggunaan amunisi dalam OEF telah menyebabkan kekurangan pada inventaris strategis dan mengungkap hambatan dalam basis industri untuk pasokan ulang amunisi.”
Besarnya penggunaan persenjataan juga berdampak pada armada udara Amerika Serikat. Sebanyak empat pesawat F-35 dilaporkan hancur, satu F-35 mengalami kerusakan, sedangkan tujuh pesawat tanker KC-135 turut mengalami kerusakan. Selain itu, hingga 30 pesawat nirawak MQ-9 Reaper dilaporkan hancur selama perang, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Selasa, (15/09/2026).
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan yang dihadapi militer Amerika Serikat untuk mempertahankan ketersediaan persenjataan sekaligus mengganti peralatan yang rusak atau hancur. Laporan inspektur jenderal juga menyoroti persoalan kapasitas industri pertahanan dalam memasok kembali amunisi yang telah digunakan.
Meski laporan pemerintah mengungkap adanya kekurangan persenjataan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali menepis kekhawatiran mengenai menipisnya persediaan senjata selama enam bulan perang di Timur Tengah. Beberapa pekan sebelumnya, Trump menyatakan Amerika Serikat memiliki amunisi dalam jumlah yang “praktis tak terbatas.”
Pada Senin, Trump kembali menyampaikan pernyataannya melalui platform Truth Social. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tengah memproduksi “senjata yang lebih canggih dan unggul dibandingkan masa mana pun dalam sejarah kita.”
Di sisi lain, laporan sebelumnya juga mengungkap kekurangan rudal kendali jarak jauh dan pencegat pertahanan udara telah memengaruhi strategi Trump dalam konflik dengan Iran. Militer Amerika Serikat bahkan disebut telah “menggunakan hampir 80%” dari stok pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).
Pada 24 jam pertama perang, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan serangan terhadap lebih dari 1.000 target. Namun, serangan berskala besar dengan intensitas serupa tidak lagi dilakukan dalam beberapa bulan berikutnya.
Selain menguras persenjataan, konflik tersebut menyebabkan kerusakan signifikan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Laporan menyebut “serangan Iran merusak dan menghancurkan ratusan bangunan serta struktur di pangkalan-pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, UEA, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania selama konflik berlangsung.”
Kerusakan pangkalan tersebut belum dimasukkan dalam perhitungan biaya perang sekitar US$33,4 miliar. Inspektur jenderal tidak memasukkannya karena belum diketahui apakah seluruh fasilitas akan dibangun kembali serta pihak yang nantinya menanggung biaya pemulihan. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan