JK Soroti Kelalaian Listrik sebagai Pemicu Kebakaran Jakarta

JAKARTA – Upaya mencegah kebakaran di Jakarta dinilai perlu dimulai dari peningkatan disiplin masyarakat dalam menggunakan listrik. Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI sekaligus Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla menilai kelalaian dalam penggunaan listrik menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius karena dapat memicu kebakaran dan menghilangkan seluruh harta benda dalam waktu singkat.

Jusuf Kalla menyampaikan hal tersebut saat peresmian gedung baru PMI di Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026). Ia mengatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah sepakat mengerahkan unsur pemadam kebakaran, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), mahasiswa bidang elektronik, dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mendorong masyarakat lebih disiplin menggunakan listrik, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Jumat (18/09/2026).

“Kita sudah sepakat dengan Pak Gubernur untuk mengerahkan pemadam kebakaran, Satpol PP, mahasiswa elektronik di seluruh Jakarta dan PLN untuk menggerakkan disiplin listrik,” ujar Jusuf Kalla.

Menurut Jusuf Kalla, sekitar 90 persen kebakaran di Jakarta disebabkan oleh listrik. Ia menilai kondisi tersebut berkaitan dengan kelalaian manusia, termasuk penggunaan daya listrik yang melebihi kapasitas yang tersedia.

“90 persen kebakaran di Jakarta itu karena listrik. Kenapa itu terjadi? Keteledoran. Keteledoran orang. Langganannya 300 atau 400 dipakai 500, 600. Berkelebihan. Akhirnya panas, akhirnya terbakar,” jelasnya.

Karena itu, ia mendorong penguatan edukasi dan kedisiplinan penggunaan listrik sebagai bagian dari strategi pencegahan. Menurut dia, pengurangan risiko kebakaran dapat dilakukan dengan menghindari pemasangan listrik yang tidak tepat maupun penggunaan beban yang melampaui kapasitas.

“Kalau disiplin listrik, 50 persen kebakaran bisa turun. 50 persen kebakaran bisa turun karena 90 persen karena listrik, korsleting. Korsleting karena salah pasang atau berlebihan. Itu aja rumusnya,” usul Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla juga menyoroti besarnya dampak kebakaran terhadap masyarakat, khususnya karena kejadian tersebut banyak berlangsung di kawasan permukiman. Ia membandingkan dampak kebakaran dengan banjir dari sisi kerusakan terhadap harta benda warga.

“Karena kalau banjir, rumah masih ada, pakaian masih ada, cuma kotor. Tapi kalau kebakaran, habis semuanya. Habis semuanya kalau kebakaran. Jadi lebih bahaya kebakaran dari banjir sebenarnya,” terangnya.

Dalam penjelasannya, Jusuf Kalla mengelompokkan bencana berdasarkan faktor penyebabnya, yakni bencana alam, bencana yang dipicu manusia, serta bencana yang melibatkan faktor alam dan manusia. Kebakaran disebutnya sebagai salah satu bencana yang berkaitan dengan tindakan manusia.

“Kalau bencana karena manusia, kayak perang, konflik, dan kebakaran, Pak Gubernur. Itu karena manusia,” ujar Jusuf Kalla.

Sementara itu, ia mencontohkan gempa, letusan gunung, dan tsunami sebagai bencana yang disebabkan faktor alam.

“Bencana alam gempa, gunung meletus, dan tsunami itu karena alam,” katanya.

Untuk bencana yang dipengaruhi kedua faktor tersebut, ia mencontohkan banjir sekaligus kembali menyebut kebakaran dalam penjelasannya.

“Banjir karena alam dan manusia. Alam dan manusia. Karena itulah, dan juga kebakaran alam manusia,” ungkap Jusuf Kalla.

Ia kembali menekankan besarnya kerusakan akibat kebakaran karena seluruh bagian rumah dan barang di dalamnya dapat musnah.

“Kalau kebakaran, habis semuanya. Habis semuanya kalau kebakaran. Jadi lebih bahaya kebakaran dari banjir sebenarnya. Kebakaran menghabiskan seluruhnya,” ucapnya.

Atas kondisi tersebut, Jusuf Kalla mengingatkan bahwa penanganan bencana tidak cukup hanya dilakukan setelah kejadian berlangsung. Upaya pencegahan melalui edukasi, pengawasan, dan kedisiplinan masyarakat dalam menggunakan listrik dinilai perlu diperkuat agar potensi kebakaran dapat ditekan sejak awal. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com