Karhutla di Kaltim mencapai 6.333 hektare hingga 21 September 2026, mendorong BPBD memperkuat pemetaan lahan, pemadaman udara, dan mitigasi kebakaran di sejumlah daerah.
SAMARINDA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) telah mencapai 6.333 hektare hingga 21 September 2026. Luasan area terbakar tersebut membuat Kaltim mulai masuk dalam prioritas penanganan kebakaran di Indonesia, sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim terus melakukan mitigasi, pemetaan lahan, serta operasi pemadaman dari darat dan udara.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan luas karhutla menjadi perhatian serius karena kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah. Data tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Posko Siaga Bencana Karhutla dan Kekeringan BPBD Kaltim, Jalan MT Haryono, Samarinda, Selasa (22/09/2026).
“Dengan luasan 6.300 ini saat ini Kaltim sudah mulai masuk ke dalam prioritas kebakaran yang ada di Indonesia,” kata Buyung.
Berdasarkan data BPBD Kaltim, dari total 6.333 hektare area yang terbakar, sekitar 1.700 hektare berada di kawasan hutan. Sementara itu, luas lahan perkebunan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 38,5 hektare.
Sekitar 4.500 hektare lainnya tercatat sebagai lahan di luar kawasan hutan dan perkebunan. Kondisi tersebut menjadi perhatian BPBD Kaltim karena sebagian besar area yang dilaporkan terbakar berada dalam kategori lahan nonhutan dan nonperkebunan.
“Kalau kita lihat data tadi, luas hutan yang terbakar dari 6.330 itu hanya 1.700. Kemudian kebun itu 38,5. Sementara sisanya lahan itu ada 4.500,” ujar Buyung.
BPBD Kaltim kini meminta pemerintah daerah hingga kelurahan dan desa membantu memetakan kepemilikan lahan yang terbakar. Pemetaan dilakukan sebagai bagian dari mitigasi untuk mengetahui status lahan sekaligus aktivitas yang berlangsung sebelum kebakaran terjadi.
Namun, Buyung menegaskan data kepemilikan tersebut masih perlu melalui proses validasi sehingga belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan penyebab kebakaran.
“Kami lagi memitigasi setiap kejadian kebakaran. Kami minta konfirmasi kepada daerah, kepada kelurahan, kepada kepala desa untuk memetakan lahan yang terbakar itu milik siapa,” jelas Buyung.
Selain pemadaman dari darat, BPBD Kaltim mengoperasikan pemadaman udara dengan metode water bombing (WB) sejak 8 September 2026. Operasi tersebut dipusatkan dari Samarinda dan dikerahkan berdasarkan laporan kejadian karhutla dari kabupaten dan kota.
Apabila terjadi kebakaran yang membutuhkan penanganan melalui udara, pemerintah daerah dapat berkoordinasi dengan BPBD Kaltim maupun posko Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan WB yang berada di Bandar Udara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto.
“Kalau Samarinda terjadi kejadian kebakaran, teman-teman Samarinda akan mengontak kepada BPBD atau posko OMC dan WB yang ada di APT Pranoto dan kemudian dilakukan water bombing,” tutur Buyung.
Sejumlah wilayah Kaltim juga sempat diguyur hujan. Namun, menurut Buyung, intensitas hujan belum tinggi karena ketersediaan bibit awan yang memenuhi persyaratan untuk penyemaian masih terbatas.
Dalam pelaksanaan OMC, pesawat diterbangkan ketika terdeteksi awan yang memenuhi persyaratan. Bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) atau garam kemudian disebarkan ke dalam awan untuk membantu proses pembentukan hujan.
Di tengah upaya penanganan tersebut, BPBD Kaltim mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan selama kondisi kemarau. Api dari aktivitas pembakaran berpotensi meluas, sementara bara yang tersisa dapat kembali memicu kebakaran meski api di permukaan telah dipadamkan.
“Peraturan regulasi sudah ada, tolong tidak lagi membakar lahan,” tegas Buyung.
Ia mengingatkan dampak karhutla tidak hanya dirasakan di lokasi kebakaran. Asap dapat menyebar ke wilayah lain dan berpotensi mengganggu aktivitas serta kondisi masyarakat selama musim kemarau masih berlangsung.
“Efek asap tidak akan hilang sebelum musim hujan. Jadi tolong ini, membakar ini bukan hanya seolah-olah, ‘Wah ini saya harus membakar’. Efeknya dirasakan oleh seluruh masyarakat di Kaltim,” tutup Buyung. []
Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan