Bagikan Masker hingga Dampingi Petani, Ini Gerakan Fordayak Bartim

Di tengah kabut asap akibat karhutla, Fordayak Bartim menggerakkan kader ke pelosok untuk membagikan masker, mengedukasi warga, serta mendorong penanganan persoalan petani tradisional secara bijak.

BARITO TIMUR – Forum Pemuda Dayak (Fordayak) Kabupaten Barito Timur (Bartim) menggerakkan jajaran di tingkat kecamatan untuk turun langsung ke pelosok desa menghadapi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus membagikan masker dan mengedukasi masyarakat mengenai perlindungan kesehatan.

Gerakan sosial tersebut dilakukan di tengah kondisi kabut asap yang dinilai semakin mengkhawatirkan akibat kemarau panjang. Pengurus Fordayak Bartim menyasar warga di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Paku dan Kecamatan Petangkep Tutui, untuk memastikan masyarakat yang terdampak tetap mendapat perhatian.

Ketua Umum (Ketum) Fordayak Bartim, Rafi Hidayatullah, mengatakan keterlibatan organisasi kepemudaan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap warga yang menghadapi dampak langsung polusi udara. Ia menyebut aksi lapangan diperlukan agar bantuan dan edukasi tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan.

“Kita sangat berduka karena sudah ada laporan warga yang meninggal dunia akibat dampak polusi udara ini, kami tidak bisa tinggal diam selaras dengan maklumat pemerintah dan bersinergi dengan aksi daripada Dewan adat Dayak kabupaten Barito Timur serta elemen ormas lainnya saya gerakan juga pemuda-pemudi di DPK Fordayak Bartim untuk turun langsung melakukan aksi,” ucap Rafi kepada awak media ini, sebagaimana diberitakan BRP, Minggu (27/09/2026).

Menurut Rafi, aksi sosial yang telah berjalan sejak sehari sebelumnya diarahkan untuk menyentuh masyarakat secara langsung. Selain membagikan masker, para kader juga memberikan edukasi agar warga lebih memperhatikan kondisi kesehatan selama kualitas udara memburuk.

“Saya secara resmi telah menginstruksikan seluruh jajaran DPK Fordayak di tingkat kecamatan untuk merapatkan barisan serentak. Jangan tunggu bola, buka akses bantuan bagikan masker ala kadarnya sesuai dengan kemampuan kita, sesuai aksi sosial kita dan dampingi warga yang membutuhkan di wilayah masing-masing,” tegas Rafii.

Ia menekankan kader Fordayak harus hadir di lapangan untuk membantu masyarakat menghadapi situasi krisis. Menurutnya, keterlibatan langsung diperlukan agar organisasi tidak hanya memberikan pernyataan, tetapi juga menghadirkan tindakan di tengah warga.

Di sisi lain, Rafi yang juga merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bartim menyoroti persoalan hukum yang sedang dihadapi warga terkait dugaan pembakaran lahan untuk kegiatan berladang. Ia meminta persoalan tersebut disikapi secara proporsional dengan tetap menghormati proses hukum.

“Mengenai adanya warga di daerah pemilihan saya yang saat ini menjalani proses di kepolisian terkait dugaan pembakaran lahan saat berladang, kita semua harus menyikapinya secara kepala dingin dan bijak dan berimbang. Di satu sisi kami sangat menghormati dan mendukung tugas-tugas hukum serta proses tindak lanjut yang sedang berjalan secara profesional di jajaran Polres kabupaten Barito Timur,” tuturnya.

Rafi menilai penanganan karhutla membutuhkan komitmen bersama, tetapi kondisi sosial masyarakat lokal juga perlu menjadi pertimbangan. Ia mengatakan sebagian warga Bartim masih menjalankan kegiatan berladang secara tradisional untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam konteks tersebut, Rafi yang juga mengemban tugas sebagai Wakil Ketua Komisi III DPRD Bartim sekaligus Ketum Fordayak Bartim menempatkan organisasi kepemudaan tersebut sebagai penghubung komunikasi antara warga, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bartim, dan Kepolisian Resor (Polres) Bartim.

Ia kembali meminta jajaran Fordayak Bartim bergerak ke desa-desa pelosok untuk membagikan masker sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan. Pada saat yang sama, ia mendorong aparat mempertimbangkan kondisi petani tradisional dalam menangani persoalan hukum terkait aktivitas pembukaan lahan.

“Kita juga mendorong hadirnya solusi yang bijak, mudah-mudahan solusi yang bijak ini hukum tetap dihormati, tetapi kearifan lokal juga dari sisi kemanusiaan dan pembinaan kepada Petani kecil juga tetap mendapatkan ruang keadilan,” pungkasnya. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *