MALINAU – Rentetan kecelakaan air di jalur Sungai Bahau, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, kian memicu kekhawatiran serius. Peristiwa longboat mati mesin yang nyaris menelan korban jiwa di Jeram Baru, Rabu (07/01/2026), menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk segera menghentikan ketergantungan warga pada jalur sungai berisiko tinggi.
Insiden tersebut kembali menegaskan rapuhnya sistem transportasi di wilayah pedalaman Kecamatan Pujungan dan Bahau Hulu. Dalam kondisi cuaca ekstrem dan alur sungai yang terus berubah, perjalanan menggunakan perahu kini dipandang sebagai pertaruhan nyawa.
Camat Pujungan Muling Lengkan menyatakan, aspirasi masyarakat sudah mengarah pada satu tuntutan utama: pembukaan akses jalan darat yang aman dan berkelanjutan. “Masyarakat kami hidup di tengah ancaman setiap kali melintas sungai. Jalurnya berubah-ubah, apalagi di musim hujan. Yang paling mendesak adalah kehadiran jalan darat dari pemerintah pusat,” ujarnya.
Menurut Muling, kondisi semakin memburuk sejak munculnya jeram baru pada Juni 2025. Titik tersebut dinilai jauh lebih berbahaya dibandingkan jeram sebelumnya karena karakter arus yang sulit diprediksi. “Ini jeram baru, dan tingkat bahayanya tinggi. Baik saat air surut maupun pasang, motoris perahu tetap menghadapi risiko besar,” katanya.
Pemerintah daerah sebenarnya telah melakukan sejumlah upaya mitigasi. Pada September dan Oktober 2025, penjinakan jeram dilakukan melalui pengeboman batuan. Namun, faktor alam membuat hasilnya belum memberi rasa aman jangka panjang bagi masyarakat. “Upaya fisik sudah dilakukan, tetapi alam terus berubah. Warga berharap tidak lagi menggantungkan hidup sepenuhnya pada sungai,” tambah Muling.
Keterisolasian wilayah makin terasa karena jalur alternatif nyaris tak tersedia. Transportasi udara sangat terbatas, dengan penerbangan perintis hanya beroperasi satu hingga dua kali dalam sepekan. “Kapasitas pesawat sangat kecil. Bahkan kami sampai harus mengundi KTP warga untuk menentukan siapa yang bisa berangkat. Situasinya sudah sangat darurat,” ungkapnya.
Secara teknis, Muling menjelaskan bahwa badan jalan dari Desa Kemuat sebenarnya telah terbentuk, meski belum dapat dilalui kendaraan. Selain itu, terdapat bekas jalur mobilisasi perusahaan kayu di wilayah Lejau yang dinilai bisa ditingkatkan menjadi akses publik.
“Infrastruktur dasarnya ada. Tinggal kemauan dan perhatian serius dari pemerintah pusat. Warga sudah trauma. Jangan sampai tragedi di jeram kembali merenggut nyawa dan harta benda,” pungkasnya. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan