JAKARTA – Kasus dugaan perundungan dan pelecehan yang menimpa C, anak perempuan seorang influencer berinisial H, menyisakan luka psikologis mendalam. Hingga Rabu (21/1/2026), korban disebut masih mengalami trauma dan belum diizinkan kembali ke sekolah.
H mengungkapkan, perubahan sikap sang anak mulai terlihat sejak beberapa pekan terakhir, tepatnya setelah libur Tahun Baru 2026. Menurutnya, C kerap menangis tanpa sebab yang jelas dan cenderung menutup diri.
H menuturkan bahwa anaknya menunjukkan tanda-tanda tekanan emosional sejak awal Januari 2026. Setiap ditanya, C memilih diam dan menyangkal ada masalah, meski raut wajahnya memperlihatkan ketakutan, ungkap H saat dikonfirmasi, Rabu (21/01/2026).
Awalnya, H mengira perubahan perilaku tersebut dipicu oleh rasa kecewa karena jarang dijemput sekolah. Ia belum mengaitkannya dengan dugaan perundungan maupun pelecehan yang dialami anaknya. Ia mengaku sempat menyalahkan diri sendiri. Namun, semua mulai terkuak ketika ia mendatangi pihak sekolah pada pekan ketiga Januari 2026, barulah sang anak berani bercerita, jelas H.
H membantah anggapan yang menyebut kondisi psikologis anaknya baik-baik saja. Ia menegaskan, C justru kerap mengalami kegelisahan, terutama pada malam hari. Menurut H, hampir setiap malam anaknya sulit tidur dan tampak ketakutan sejak kasus itu mencuat. Ia menilai anggapan yang menyebut anaknya tidak mengalami gangguan psikis sebagai pernyataan yang keliru, ujarnya pada Rabu (21/01/2026).
Ia juga mengungkap, sebelum berani bercerita secara langsung, C sempat mengirim pesan dan meminta waktu khusus untuk berbicara empat mata. H mengatakan, anaknya membutuhkan beberapa hari untuk mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya mengungkap dugaan perundungan dan pelecehan yang dialaminya, tambahnya.
Atas kondisi tersebut, H memutuskan untuk menghentikan sementara aktivitas sekolah sang anak. Ia menegaskan, C masih berada di rumah dan belum diizinkan kembali ke sekolah hingga persoalan ini tuntas dan kondisi psikologisnya membaik, katanya, Rabu (21/01/2026).
H membeberkan, dugaan pelecehan bermula dari ajakan seorang teman sekolah berinisial R untuk merayakan Tahun Baru 2026 bersama. Namun, rencana tersebut batal karena H telah merencanakan liburan keluarga ke Yogyakarta pada akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026.
H menjelaskan, anaknya memilih ikut berlibur bersama keluarga ke Yogyakarta dan belum mengetahui rencana yang diduga disusun oleh R, ungkapnya saat diwawancarai Rabu (21/01/2026).
Setelah kembali masuk sekolah pascalibur Tahun Baru 2026, C mendengar informasi dari teman-temannya mengenai dugaan rencana pembiusan tersebut. H menyebut, anaknya kemudian menanyakan langsung kepada R terkait isu pembiusan itu. Namun, R berdalih bahwa semua hanya candaan, katanya.
Tak berhenti di situ, H mengungkap adanya pembahasan tidak pantas mengenai anak pertamanya di sebuah grup percakapan yang beranggotakan sekitar 40 siswa. Ia menyebut, pembicaraan dalam grup tersebut mengandung unsur yang tidak layak dan semakin memperparah kondisi mental anaknya, ujar H.
Selain dugaan pelecehan seksual, C juga disebut mengalami perundungan verbal sejak Februari 2025, yang intensitasnya meningkat pada November 2025. H mengungkap, anaknya kerap diledek dengan sebutan bernada merendahkan yang memiliki konotasi tidak pantas, jelasnya.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur II, Horale, menyatakan pihaknya masih mendalami laporan tersebut. Horale mengatakan, pihaknya saat ini fokus melakukan pendalaman kasus serta berkoordinasi dengan dinas terkait, saat dikonfirmasi Rabu (21/1/2026). []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan