Anak Krakatau Siaga, Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Pelayaran

Pemantauan KRI Lepu 861 menemukan sebaran abu masih berada di sekitar Gunung Anak Krakatau yang kembali mengalami erupsi berulang pada Selasa (8/9).

JAKARTA – Semburan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) dinilai berpotensi mengganggu keselamatan pelayaran di perairan Selat Sunda setelah hasil pemantauan langsung Kapal Republik Indonesia (KRI) Lepu 861 menemukan sebaran abu masih terlihat di sekitar gunung tersebut. Kondisi itu terjadi saat GAK yang berstatus Level III atau Siaga kembali mengalami erupsi berulang pada Selasa (8/9).

KRI Lepu 861 dikerahkan untuk melihat kondisi GAK dari jarak yang memungkinkan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Panjang, Lampung, pada Senin (7/9). Kapal perang Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) tersebut melakukan pemantauan dari lapangan karena kamera pemantau yang berada dekat puncak gunung dilaporkan rusak akibat aktivitas letusan pada akhir pekan.

Dalam laporan pemantauan KRI Lepu 861 yang dikutip dari keterangan Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Lampung, disebutkan kondisi perairan di sekitar GAK masih menghadapi ancaman sebaran abu vulkanik.

“Semburan abu vulkanik serta hujan debu berpotensi sebagai bahaya navigasi bagi kapal-kapal yang melintas di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau. (dampak sangat dipengaruhi arah angin),” demikian laporan pantauan KRI Lepu 861 yang akan menuju Lampung dalam rangka operasi di bawah Gugus Tempur Laut (Guspurla) Komando Armada I (Koarmada I), sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Selasa, (08/09/2026).

Dari jarak sekitar 6 nautical mile (Nm), awak KRI masih melihat sebaran abu. Jarak pandang di sekitar GAK diperkirakan hanya sekitar 3 Nm, sedangkan tinggi gelombang berada pada kisaran 0,5 hingga 1 meter. Kondisi gunung secara visual juga masih tertutup kabut tebal, meski aktivitas erupsi tetap terlihat dari kapal.

“Pada jarak 6 Nm kondisi udara masih terpantau adanya sebaran abu. Jarak pandang di sekitaran Gunung Anak Krakatau kurang lebih 3 Nm. Tinggi Gelombang mencapai 0,5 m – 1 m. Terpantau masih terlihat adanya erupsi di Gunung Anak Krakatau,” sambungnya.

Setelah melakukan pemantauan, KRI Lepu 861 melanjutkan pelayaran menuju Pelabuhan Panjang sekitar pukul 17.27 WIB. Hasil pengamatan tersebut menjadi dasar kewaspadaan terhadap potensi gangguan navigasi di jalur pelayaran sekitar GAK, terutama karena penyebaran abu sangat dipengaruhi arah angin.

Untuk mengantisipasi perkembangan situasi, Lanal Lampung terus bertukar informasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Lampung, serta instansi terkait lainnya. Lanal Lampung juga bergabung dalam grup percakapan tanggap darurat pemerintah dan instansi Provinsi Lampung di bawah koordinasi BPBD.

“Update pertukaran informasi terus dilaksanakan bersama BPBD provinsi Lampung, Basarnas Lampung maupu instansi samping. Lanal Lampung masuk dalam WAG aksi tanggap darurat pemerintah dan instansi Provinsi Lampung di bawah BPBD,” demikian dikutip dari laporan Danlanal Lampung dalam keterangan itu.

Sementara itu, aktivitas erupsi GAK kembali meningkat pada Selasa (8/9). Berdasarkan informasi letusan dari sistem pemantauan gunung api Indonesia milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tiga erupsi tercatat hingga pukul 07.49 WIB. Letusan pertama terjadi pukul 05.08 WIB dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan durasi 15 detik.

“Visual letusan tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 47 mm dan durasi 15 detik,” demikian laporan tersebut.

Erupsi kedua terjadi pada pukul 05.34 WIB dengan amplitudo maksimum 44 milimeter dan durasi 10 detik. Selanjutnya, erupsi ketiga tercatat pukul 07.49 WIB dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan durasi 19 detik. Ketiga letusan tersebut tidak teramati secara visual, tetapi seluruh aktivitas terekam melalui seismograf.

Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan erupsi menerus GAK sempat berhenti pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB. Meski demikian, potensi terjadinya letusan susulan masih tinggi sehingga status aktivitas gunung tetap berada pada Level III atau Siaga.

Dengan masih berlangsungnya erupsi dan ditemukannya sebaran abu dari hasil pemantauan laut, kewaspadaan tidak hanya diperlukan bagi masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana, tetapi juga kapal yang melintas di perairan Selat Sunda. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com