Lebanon Selatan Kembali Mencekam, Warga Terancam Mengungsi

Serangan udara Israel di Lebanon selatan menewaskan tiga generasi dalam satu keluarga dan memicu kekhawatiran warga yang baru kembali dari pengungsian harus meninggalkan rumah lagi.

BEIRUT – Warga Lebanon selatan kembali dihantui ancaman pengungsian setelah serangan udara Israel menewaskan tiga generasi dari satu keluarga di wilayah tersebut pada Senin (7/9) malam. Serangan itu menewaskan sejumlah anak, termasuk seorang bayi berusia dua bulan, sekaligus memunculkan kekhawatiran konflik kembali memanas di kawasan perbatasan.

Serangan tersebut menghantam sebuah rumah di Lebanon selatan hingga menyebabkan bangunan runtuh dan menimbun para penghuninya. Petugas pertahanan sipil bekerja sepanjang malam hingga pagi untuk mencari dan mengevakuasi jenazah dari balik reruntuhan beton.

Dua korban terakhir, termasuk seorang anak, baru ditemukan sekitar dua jam setelah serangan. Proses pencarian berlangsung sulit karena petugas harus terlebih dahulu menyingkirkan material bangunan yang ambruk.

Peristiwa tersebut terjadi ketika sebagian warga Lebanon selatan baru mulai kembali ke rumah masing-masing setelah sebelumnya mengungsi akibat serangkaian serangan. Kondisi itu membuat serangan terbaru menimbulkan kekhawatiran bahwa warga kembali harus meninggalkan tempat tinggal mereka apabila eskalasi terus berlanjut, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Selasa, (08/09/2026).

Mustafa, salah seorang warga Lebanon selatan, mengatakan dirinya telah meninggalkan desa di kawasan perbatasan selama hampir tiga tahun. Ia kini menghadapi ketidakpastian setelah wilayah tempat tinggalnya kembali berada dalam situasi konflik.

“Desa saya berada di garis depan sejak akhir 2023, dan sekarang diduduki Israel. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,” katanya.

Serangan terbaru itu menjadi bagian dari rangkaian ketegangan di Lebanon selatan yang merupakan wilayah dengan pengaruh kuat Hizbullah, kelompok yang menjadi sekutu Iran. Situasi tersebut berlangsung ketika terdapat kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi Amerika Serikat.

Dalam beberapa pekan terakhir, militer Israel juga berupaya menguasai dataran tinggi strategis dari Hizbullah. Israel menyatakan telah memiliki “kendali operasional” atas wilayah tersebut.

Israel juga menuduh Hizbullah melakukan serangan menggunakan pesawat nirawak bersenjata terhadap pasukannya. Namun, tuduhan tersebut belum mendapat tanggapan dari Hizbullah.

Peningkatan intensitas serangan di tengah kembalinya sebagian warga membuat masa depan keamanan Lebanon selatan kembali tidak menentu. Bagi masyarakat yang sebelumnya telah kehilangan tempat tinggal akibat konflik, situasi terbaru berpotensi memaksa mereka kembali meninggalkan wilayah tersebut apabila pertempuran semakin meluas. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com