BEIRUT — Ketegangan di perbatasan selatan Lebanon kembali meningkat setelah operasi militer Israel menewaskan empat orang, termasuk seorang anak kecil, dalam dua serangan berbeda. Peristiwa yang terjadi pada Senin (09/02/2026) waktu setempat itu diklaim Israel sebagai bagian dari upaya menargetkan anggota Hizbullah di wilayah tersebut.
Laporan sejumlah media internasional menyebutkan, tiga korban termasuk anak berusia tiga tahun tewas akibat serangan udara di Desa Yanouh. Otoritas kesehatan Lebanon mengonfirmasi jatuhnya korban sipil dalam serangan tersebut. Sementara itu, satu korban lainnya dilaporkan meninggal dunia di Desa Aita al-Shaab, kawasan yang berada dekat garis perbatasan.
Militer Israel menyatakan operasi di Yanouh diarahkan pada seorang komandan artileri Hizbullah yang disebut memiliki peran penting dalam berbagai serangan sebelumnya. Pihak militer juga mengakui adanya laporan korban sipil dan menegaskan insiden tersebut masih dalam proses penyelidikan.
“Kami mengetahui adanya klaim korban dari warga sipil yang tidak terlibat. Berbagai langkah telah diambil untuk meminimalkan dampak terhadap penduduk, termasuk penggunaan amunisi presisi, dan kejadian ini sedang diselidiki,” demikian keterangan militer Israel.
Dalam perkembangan lain pada hari yang sama, pasukan Israel menangkap seorang pejabat al-Jamaa al-Islamiya dalam operasi penggerebekan di Desa Habbariyeh, dekat Hasbaiyaa. Israel menyebut tokoh tersebut sebagai “teroris senior” dan menyatakan ia telah dipindahkan ke wilayah Israel untuk proses interogasi lebih lanjut.
Sejak konflik bersenjata antara Israel dan Hizbullah pada 2024, serangan lintas batas terus terjadi meskipun gencatan senjata telah diumumkan. Sumber keamanan Lebanon mencatat ratusan korban jiwa berjatuhan sejak kesepakatan penghentian tembakan diberlakukan.
Hizbullah menilai serangan terbaru ini sebagai tanda meningkatnya eskalasi. Dalam pernyataannya, kelompok tersebut menyebut kejadian itu sebagai “eskalasi berbahaya” yang “menandakan awal fase baru agresi Israel.” Di sisi lain, Israel menuduh Hizbullah berupaya membangun kembali kekuatan militernya dengan melanggar perjanjian gencatan senjata.
Situasi di perbatasan selatan Lebanon pun kembali berada dalam sorotan internasional. Kekhawatiran akan meluasnya konflik meningkat, terutama di tengah ketegangan regional yang belum mereda sejak perang Gaza memicu rangkaian konfrontasi di berbagai front Timur Tengah.[]
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan