KOTAWARINGIN TIMUR – Kasus ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, ternyata memiliki jejak hingga ke daerah. Temuan terbaru mengungkap adanya keterkaitan jaringan pelaku dengan anak-anak di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.
Berdasarkan data yang diterima dari Densus 88 Antiteror, tercatat dua anak asal Kotim masuk dalam jaringan komunikasi yang sama dengan pelaku kasus ledakan tersebut. Keduanya diduga tergabung dalam sebuah true crime community yang terindikasi memiliki paham ekstremisme dan mengarah pada ideologi kekerasan.
Fakta ini memicu kewaspadaan serius Pemerintah Kabupaten Kotim terhadap potensi paparan radikalisme di kalangan anak-anak dan remaja.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kotim, Rihel, menjelaskan bahwa temuan tersebut muncul setelah aparat melakukan pendalaman terhadap perangkat komunikasi pelaku utama kasus ledakan di Jakarta.
“Setelah dilakukan pengembangan dan pembacaan grup komunikasi di ponsel pelaku, ditemukan adanya anggota dari berbagai daerah. Dari hasil itu, dua di antaranya teridentifikasi berasal dari Kotim,” kata Rihel, Kamis (08/01/2026).
Meski demikian, Rihel menegaskan bahwa identitas kedua anak tersebut masih dirahasiakan sepenuhnya oleh aparat penegak hukum. Informasi mengenai jenjang pendidikan maupun latar belakang pribadi keduanya juga belum dibuka ke publik.
“Detailnya belum disampaikan ke kami. Apakah mereka masih di SD atau sudah di tingkat SLTA, tidak disebutkan. Yang diberikan hanya data pemetaan awal, dan itu bersifat sangat tertutup,” ujarnya.
Rihel mengungkapkan, jaringan tersebut menggunakan permainan daring sebagai pintu masuk perekrutan. Anak-anak diajak bermain game, lalu secara perlahan diarahkan masuk ke ruang komunikasi tertutup yang berisi konten-konten menyimpang. “Awalnya hanya bermain game biasa. Lama-lama muncul percakapan yang mengarah ke hal-hal tertentu. Dari situ pola pikir anak mulai berubah,” jelasnya.
Menurutnya, perubahan perilaku menjadi tanda awal yang patut diwaspadai. Anak-anak yang mulai terpapar biasanya menunjukkan sikap menyendiri, menarik diri dari pergaulan, dan enggan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Rihel menambahkan, usia paling rentan terpapar paham radikalisme berada di kisaran 12 tahun, bahkan sudah menyasar anak-anak sekolah dasar. “Data yang kami terima menunjukkan sasaran mereka anak-anak usia SD hingga SLTA. Ada yang usianya masih 12 tahun. Ini sangat memprihatinkan,” tegasnya.
Menghadapi ancaman tersebut, Rihel menekankan bahwa pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan aparat keamanan. Peran keluarga dinilai menjadi benteng pertama dan paling krusial. “Keluarga adalah garda terdepan. Orang tua harus peka. Kalau anak tiba-tiba berubah sikap, pendiam, atau tertutup, itu pasti ada sebabnya dan harus segera didampingi,” katanya.
Selain keluarga, Rihel juga meminta pihak sekolah memperkuat fungsi pengawasan, khususnya melalui guru bimbingan dan konseling (BK), sebagai sistem peringatan dini di lingkungan pendidikan. “Guru BK punya peran penting. Perubahan perilaku anak di sekolah harus segera ditindaklanjuti agar tidak berkembang lebih jauh,” pungkasnya.[]
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan