Amerika Serikat memperingatkan negara-negara NATO terhadap ancaman perang hibrida yang dituduhkan melibatkan Rusia dan menegaskan kesiapan mendukung sekutu yang menghadapi tindakan bermusuhan.
LONDON – Amerika Serikat (AS) memperingatkan negara-negara anggota Organisasi Traktat Atlantik Utara (NATO) agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman perang hibrida yang dituduhkan melibatkan Rusia, terutama terhadap infrastruktur penting. Washington memastikan akan mendukung sekutu yang menghadapi tindakan bermusuhan, meskipun respons awal tetap menjadi tanggung jawab masing-masing negara.
Duta Besar AS untuk NATO Matthew Whitaker mengatakan ancaman tersebut perlu direspons secara tegas apabila pelakunya dapat diidentifikasi. Ia menilai insiden drone di Bandara Leipzig/Halle, Jerman, pada Agustus lalu lebih mengkhawatirkan dibandingkan sejumlah kasus drone Rusia yang masuk ke wilayah udara negara NATO ketika menyerang Ukraina.
“Lalu ada apa yang saya sebut sebagai tindakan hibrida yang lebih mengkhawatirkan seperti yang kita lihat di Leipzig, seperti yang telah kita lihat di Polandia,” kata Whitaker, sebagaimana diberitakan Sindo News, Senin, (07/09/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Whitaker di sela-sela konferensi bisnis di Italia. Ia mendorong negara-negara anggota NATO untuk tetap waspada dan mengambil tindakan apabila ditemukan aktivitas bermusuhan yang dapat dikaitkan dengan pihak tertentu.
“Jika kita bisa mengidentifikasi siapa pelakunya—seperti yang dilakukan Jerman—kita memastikan untuk menyatakan dengan tegas bahwa hal itu tidak dapat diterima dan kita tidak akan menoleransinya,” ujarnya.
Whitaker juga mengingatkan bahwa sasaran perang hibrida tidak terbatas pada wilayah militer. Infrastruktur penting, termasuk fasilitas energi, dinilai berpotensi menjadi sasaran sehingga otoritas nasional diminta meningkatkan pemantauan terhadap fasilitas strategis tersebut.
Dalam kerangka penanganannya, Whitaker menjelaskan setiap negara tetap memiliki tanggung jawab utama untuk merespons insiden di wilayahnya. Namun, Washington disebut akan memberikan dukungan kepada negara sekutu yang menghadapi tindakan semacam itu.
Peringatan tersebut muncul setelah Jerman menuduh badan intelijen Rusia berada di balik insiden drone di Bandara Leipzig/Halle pada 5 Agustus. Berlin kemudian mengumumkan sejumlah langkah terhadap Rusia, termasuk menutup Konsulat Jenderal Rusia di Bonn dan mengakhiri perjanjian yang mencakup pusat budaya serta informasi Rusia, termasuk Russian House di Berlin.
Rusia membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya “tidak berdasar, tidak masuk akal, dan irasional.” Kedutaan Besar Rusia di Jerman juga menilai Berlin tidak memberikan bukti atas tuduhannya serta menyebut tindakan Jerman sebagai “eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya” dalam hubungan kedua negara.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova turut memperingatkan Jerman akan menerima “tanggapan yang setimpal.” Presiden Rusia Vladimir Putin juga menolak tuduhan Berlin dan menilai isu mengenai dugaan upaya serangan drone tersebut lebih banyak dipengaruhi situasi politik domestik Jerman.
Ketegangan tersebut menunjukkan bahwa hubungan Rusia dengan negara-negara NATO tidak hanya dipengaruhi perang terbuka di Ukraina, tetapi juga oleh dugaan tindakan yang menyasar wilayah, fasilitas, dan infrastruktur negara-negara anggota aliansi. Karena itu, kewaspadaan terhadap infrastruktur strategis menjadi salah satu perhatian utama di tengah meningkatnya ketegangan keamanan kawasan. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan