WASHINGTON – Amerika Serikat kembali menyita kapal tanker minyak Rusia yang terkait dengan Venezuela pada Rabu (07/01/2026). Kapal tersebut adalah Marinera, sebelumnya dikenal sebagai Bella-1, yang berhasil menghindari blokade AS pada Desember 2025.
Menurut tiga sumber yang mengetahui operasi, Marinera sedang melintas di Atlantik Utara ketika Penjaga Pantai AS dan pasukan militer lainnya melakukan penyitaan, meski kapal-kapal militer Rusia berada di area tersebut.
“Kapal ini telah disita karena dianggap sebagai armada bayangan Venezuela yang melanggar sanksi internasional,” ujar Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam konferensi pers Rabu (08/01/2026). “Setelah mengibarkan bendera palsu, kapal tersebut dianggap tanpa kewarganegaraan dan pengadilan AS memutuskan penyitaannya. Awak kapal akan menghadapi tuntutan hukum.”
Penjaga Pantai AS telah memantau Marinera selama dua minggu terakhir. Kapal ini sebelumnya ditargetkan pada 20 Desember 2025 saat berada di Karibia menuju Venezuela. Untuk mengelabui pihak berwenang, kapal Bella-1 sempat mengibarkan bendera Panama palsu, namun kemudian kembali menggunakan identitas Rusia dengan nama Marinera.
Transponder kapal baru-baru ini aktif, memungkinkan sistem pelacakan maritim menemukan lokasinya di Samudra Atlantik Utara, dekat Islandia dan Inggris Raya. Pemerintah Inggris menyatakan dukungannya terhadap penyitaan yang dilakukan AS.
Rusia mengecam keras tindakan AS. “Pasukan angkatan laut AS menaiki kapal tersebut di perairan internasional, dan kontak dengan kapal terputus. Tidak ada negara yang berhak menggunakan kekerasan terhadap kapal yang sah secara hukum di yurisdiksi negara lain,” bunyi pernyataan Kementerian Transportasi Rusia Rabu (07/01/2026).
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan blokade terhadap minyak Venezuela yang dikenai sanksi tetap berlaku. “AS akan terus menindak armada gelap yang secara ilegal mengangkut minyak Venezuela. Hanya perdagangan energi yang sah yang akan diizinkan,” tegas Hegseth melalui akun X.
Sumber ABC News menyebut, pada Selasa (06/01/2026) malam, Venezuela bersiap menyerahkan 30–50 juta barel minyak yang dikenai sanksi kepada AS sebagai tahap awal. Pemerintahan Trump akan mengawasi penjualan ini tanpa batas waktu, sekaligus mencabut sebagian sanksi terhadap Caracas.
Langkah AS ini memicu kecaman dari Moskwa dan meningkatkan ketegangan geopolitik di Atlantik Utara, terutama menyusul keberadaan kapal militer Rusia di sekitar lokasi penyitaan. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan