KOTAWARINGIN TIMUR – Musim kemarau yang mulai terasa di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) membawa sinyal peringatan bagi kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan setempat mencatat lonjakan kasus penyakit musiman, terutama diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), sejak awal 2026.
Data Dinkes Kotim menunjukkan, perubahan cuaca yang kering disertai keterbatasan air bersih dan kondisi sanitasi lingkungan menjadi pemicu utama meningkatnya kasus tersebut. Tren ini kembali berulang seperti tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, mengatakan dua penyakit tersebut hampir selalu menjadi “langganan” saat kemarau datang. “Setiap kali masuk musim kemarau, pola yang muncul selalu sama. Kasus diare dan ISPA biasanya ikut naik,” kata Nugroho, Selasa (27/01/2026).
Berdasarkan laporan mingguan, pada pekan pertama Januari 2026 tercatat 96 kasus diare, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berjumlah 69 kasus. Hingga pekan kedua Januari, akumulasi kasus diare mencapai sekitar 229 kasus, meski laju kenaikannya mulai melandai.
Menurut Nugroho, lonjakan diare umumnya terjadi pada awal bulan dan berangsur turun pada pekan ketiga, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berobat. “Diare sebenarnya bisa dicegah dan ditangani. Tapi jika terlambat, risikonya bisa serius. Idealnya dalam 24 jam sudah ditangani tenaga kesehatan,” ujarnya.
Sementara itu, kasus ISPA juga menunjukkan tren mengkhawatirkan. Pada pekan pertama Januari 2026, tercatat 323 kasus, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pada pekan kedua jumlahnya melonjak tajam hingga 628 kasus, jauh melampaui periode yang sama tahun 2025.
Nugroho menilai lonjakan ISPA dipengaruhi kombinasi cuaca ekstrem, debu, serta daya tahan tubuh masyarakat yang menurun. “ISPA itu multifaktor. Bisa karena cuaca, lingkungan, hingga kondisi imunitas. Meski meningkat, layanan kesehatan masih mampu menangani,” jelasnya.
Dinas Kesehatan Kotim pun mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh gejala penyakit selama kemarau. Warga diminta menjaga kebersihan lingkungan, memastikan konsumsi air bersih, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami diare atau gangguan pernapasan.
Langkah pencegahan dini dinilai krusial agar lonjakan kasus tidak berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih luas. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan