PALANGKA RAYA — Banjir yang merendam sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah belum menunjukkan tanda-tanda akan segera surut. Intensitas hujan yang terus tinggi dalam beberapa hari terakhir membuat genangan air bertahan di permukiman warga, terutama di kawasan yang dilintasi aliran sungai besar.
Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat, kondisi ini tidak semata-mata disebabkan oleh musim penghujan, tetapi juga dipicu faktor alam berskala regional. Fenomena cuaca ekstrem disebut memperparah debit air sungai di sejumlah daerah.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPB-PK Kalimantan Tengah, Indra Wiratama, menjelaskan bahwa tingginya curah hujan belakangan ini berkaitan erat dengan pengaruh tiga badai siklon yang terbentuk di sekitar wilayah Indonesia dan berdampak langsung pada Kalimantan.
“Intensitas hujan meningkat signifikan. Selain musim hujan, ada pengaruh siklon tropis yang ikut mendorong hujan lebat berkepanjangan, sehingga banjir di beberapa wilayah belum bisa surut,” ujar Indra, Kamis (08/01/2026).
Menurut Indra, daerah yang paling merasakan dampaknya berada di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito. Kabupaten Barito Selatan menjadi salah satu wilayah dengan genangan terlama karena secara geografis merupakan dataran rendah sekaligus jalur akhir aliran Sungai Barito. “Posisi Barito Selatan berada di hilir Sungai Barito. Aliran air dari hulu tertahan cukup lama sebelum mengalir ke Kalimantan Selatan dan sebagian ke Kabupaten Kapuas, sehingga banjir bertahan lebih lama,” jelasnya.
Data sementara BPB-PK per 7 Januari 2026 mencatat banjir telah berdampak pada dua kabupaten/kota, sembilan kecamatan, serta 65 desa dan kelurahan di Kalimantan Tengah. Jumlah warga terdampak mencapai 18.914 kepala keluarga atau sekitar 57.874 jiwa.
Tak hanya permukiman, banjir juga melumpuhkan berbagai fasilitas publik. Sedikitnya 4.626 fasilitas umum dan 5.478 unit rumah warga dilaporkan terdampak, mulai dari akses jalan, sarana pendidikan, hingga tempat ibadah.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, kata Indra, terus memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana lanjutan. Fokus utama diarahkan pada sistem peringatan dini dan respons cepat di lapangan. “Kami memperkuat peringatan dini, menyebarkan informasi kebencanaan secara masif, dan menyiapkan dukungan sumber daya untuk penanganan darurat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPB-PK Kalimantan Tengah kini siaga penuh selama 24 jam untuk menerima laporan masyarakat dan mengoordinasikan penanganan, baik kebencanaan maupun upaya penyelamatan warga.
Dengan kondisi cuaca yang masih fluktuatif, masyarakat di daerah rawan banjir diimbau tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah serta aparat penanggulangan bencana. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan