BONTANG — Upaya percepatan penanganan banjir di sejumlah wilayah Kota Bontang kini dilakukan dengan strategi baru. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang menyiagakan sejumlah perahu di titik-titik rawan banjir agar proses evakuasi warga dapat dilakukan lebih cepat oleh relawan sebelum tim utama tiba di lokasi.
Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi menghadapi banjir yang kerap terjadi di beberapa kawasan permukiman. Dengan menempatkan perahu secara langsung di wilayah terdampak, masyarakat diharapkan dapat segera melakukan penyelamatan terhadap warga yang membutuhkan bantuan darurat.
Kepala Sekretariat Unsur Pelaksana BPBD Kota Bontang, Sunaryo, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut dirancang agar proses evakuasi tidak harus menunggu kedatangan petugas dari kantor BPBD, terutama untuk wilayah yang jaraknya cukup jauh.
Menurutnya, relawan di lapangan kini bisa langsung memanfaatkan perahu yang telah disiapkan ketika kondisi air mulai meninggi.
“Kami menempatkan perahu di sejumlah titik banjir supaya relawan di lapangan dapat segera melakukan evakuasi warga tanpa harus menunggu tim BPBD datang. Hal ini sangat penting terutama di daerah yang cukup jauh dari kantor,” ujarnya pada Kamis (05/03/2026).
Ia menjelaskan bahwa jenis perahu yang digunakan saat ini berbeda dari sebelumnya. BPBD memilih menggunakan perahu berbahan plastik karena dinilai lebih aman dan tahan terhadap benda tajam yang sering ditemukan di lokasi banjir.
Menurut Sunaryo, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa perahu karet berisiko bocor saat digunakan di area banjir yang dipenuhi paku atau material tajam lainnya.
“Kami memilih perahu berbahan plastik karena lebih kuat. Saat menggunakan perahu karet sebelumnya, pernah terjadi kebocoran akibat terkena paku atau benda tajam yang terbawa arus banjir,” jelasnya.
Sejumlah wilayah yang menjadi prioritas penempatan perahu di antaranya Kelurahan Guntung, Bontang Permai, dan Kelurahan Api-Api. Ketiga kawasan tersebut termasuk daerah yang kerap terdampak banjir ketika curah hujan meningkat.
Sementara itu, untuk kawasan BTN KCY, proses evakuasi biasanya dilakukan langsung oleh tim BPBD karena lokasi wilayah tersebut relatif dekat dengan kantor BPBD.
Sunaryo menambahkan bahwa langkah ini juga didasarkan pada pengalaman penanganan banjir sebelumnya, ketika terdapat sejumlah warga yang membutuhkan evakuasi cepat, termasuk ibu hamil dan kelompok rentan lainnya.
Menurutnya, kelompok seperti balita, lansia, dan penyandang disabilitas harus segera dipindahkan ke lokasi aman ketika ketinggian air mulai meningkat.
“Dalam beberapa kejadian sebelumnya, ada ibu hamil yang harus segera dievakuasi karena kondisi banjir. Selain itu, balita, lansia, dan penyandang disabilitas juga menjadi prioritas utama saat proses penyelamatan,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa upaya penanggulangan banjir tidak dapat sepenuhnya ditangani oleh pemerintah saja. Peran aktif masyarakat dan relawan sangat dibutuhkan agar proses penanganan bencana dapat berjalan lebih efektif.
Dengan strategi penempatan perahu di titik rawan banjir, BPBD berharap proses penyelamatan warga dapat dilakukan lebih cepat sehingga risiko keselamatan masyarakat dapat diminimalkan.
“Dengan menyiagakan perahu langsung di wilayah terdampak, kami berharap proses evakuasi bisa berlangsung lebih cepat dan warga yang membutuhkan pertolongan dapat segera diselamatkan,” pungkasnya. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan