Bocah 6 Tahun Diserang Buaya, Sungai Mamolo Kembali Makan Korban

NUNUKAN – Insiden nyaris merenggut nyawa kembali terjadi di kawasan Sungai Mamolo, Nunukan Selatan. Seorang anak laki-laki berusia enam tahun menjadi korban serangan buaya saat berada di sekitar area penjemuran rumput laut, Sabtu 31 Januari 2026 menjelang waktu maghrib. Kejadian ini menambah daftar panjang konflik manusia dan satwa liar di wilayah pesisir tersebut.

Korban yang diketahui bernama Marsel, warga Desa Tanjung Harapan, diserang buaya saat berada di kolong rumah warga yang berdiri di atas perairan. Teriakan korban yang histeris memecah suasana sore dan mengundang perhatian warga nelayan serta pekerja rumput laut yang berada tak jauh dari lokasi.

Beberapa warga bergegas mendekat dan mendapati seekor buaya telah menggigit kaki korban. Dalam kondisi panik, warga secara spontan melakukan upaya penyelamatan dengan peralatan seadanya hingga akhirnya rahang buaya berhasil terlepas dan satwa tersebut menjauh ke arah sungai.

Kepolisian membenarkan peristiwa tersebut. Kasi Humas Polres Nunukan, Ipda Sunarwan, menyampaikan bahwa laporan kejadian diterima sekitar pukul 18.00 Wita.

“Korban mengalami luka serius pada bagian kaki akibat gigitan buaya. Beruntung warga bertindak cepat sehingga nyawanya dapat diselamatkan,” kata Sunarwan, Minggu (01/02/2026).

Dari hasil penelusuran awal, korban diduga terjatuh ke kolong rumah saat berada di teras. Lokasi tersebut diketahui berdekatan dengan area penjemuran rumput laut di atas Sungai Mamolo, yang selama ini dikenal sebagai habitat buaya muara.

“Diduga korban kehilangan keseimbangan dan jatuh ke area bawah rumah, lalu diserang buaya yang berada di sekitar lokasi,” ujarnya.

Korban segera dilarikan ke Puskesmas Sedadap menggunakan kendaraan warga sebelum dirujuk ke RSUD Nunukan untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan. Luka pada betis hingga paha korban dilaporkan cukup parah.

Sementara itu, Ketua RT setempat, Habir, menyebut insiden tersebut mempertegas keresahan warga yang telah berlangsung lama. Menurutnya, kemunculan buaya di sekitar permukiman dan lokasi kerja nelayan bukan lagi kejadian langka.

“Kami hidup berdampingan dengan ancaman setiap hari. Warga takut bertindak karena buaya satwa dilindungi, tetapi keselamatan manusia juga harus dipikirkan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa sepanjang Januari 2025 saja, tercatat sedikitnya lima kasus serangan buaya di sekitar Sungai Mamolo. Sebagian korbannya adalah anak-anak dan warga yang sedang beraktivitas di perairan.

“Ini bukan kejadian pertama, dan bisa terulang jika tidak ada langkah serius. Kami berharap ada solusi nyata, bukan sekadar imbauan,” tegas Habir.

Pemerintah desa bersama aparat keamanan dan perwakilan DPRD dijadwalkan menggelar rapat koordinasi untuk membahas penanganan konflik buaya yang dinilai semakin mengancam keselamatan warga pesisir Nunukan. []

Admin04

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com