Kedekatan antara perkantoran, hunian, transportasi umum, dan fasilitas publik membuat pekerja di IKN dapat menempuh perjalanan pulang sekitar 10 menit serta memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga dan aktivitas pribadi.
NUSANTARA – Perjalanan sekitar 10 menit dari kantor menuju hunian memberi para pekerja di Ibu Kota Nusantara (IKN) lebih banyak waktu untuk berolahraga, berkumpul bersama keluarga, dan menikmati ruang terbuka. Kondisi itu menjadi salah satu perubahan yang dirasakan setelah kawasan hunian, perkantoran, transportasi umum, dan fasilitas publik mulai terhubung di Nusantara.
Menjelang pukul 17.00, lalu lintas di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara mulai lengang. Sejumlah pegawai berjalan menuju halte di depan Kantor Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) untuk menunggu bus dalam kota gratis yang mengantar mereka ke kawasan hunian.
Kedekatan antara tempat bekerja dan tempat tinggal membuat perjalanan pulang tidak lagi menghabiskan waktu berjam-jam. Bagi sebagian pegawai, waktu yang sebelumnya tersita di perjalanan kini dapat digunakan untuk menjalani aktivitas lain setelah jam kerja.
Salah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) OIKN, Mirfa, telah menetap di IKN selama satu tahun. Ia merasakan perubahan bukan hanya pada jarak tempat tinggal dan kantor, tetapi juga pada ritme kehidupan sehari-hari.
“Dulu setelah pulang kerja rasanya sudah capek karena perjalanan panjang. Sekarang selesai kerja masih sempat jogging atau ikut latihan badminton. Rasanya hari belum benar-benar selesai setelah jam kantor,” ujarnya.
Pengalaman Mirfa, sebagaimana dilansir Otorita IKN, Minggu (26/07/2026), juga dirasakan pekerja dari sejumlah lembaga dan sektor usaha yang kini tinggal di kawasan Nusantara.
Kehadiran hunian, fasilitas olahraga, ruang terbuka hijau, layanan kesehatan, dan pusat kuliner membuat kebutuhan masyarakat dapat dijangkau dalam waktu relatif singkat. Pola pembangunan tersebut menempatkan kualitas hidup masyarakat sebagai salah satu pusat perencanaan kota.
Kawasan hunian juga dirancang terhubung dengan perkantoran, area komersial, dan fasilitas publik. Jalur pejalan kaki serta jalur sepeda memungkinkan masyarakat berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain tanpa selalu bergantung pada kendaraan bermotor.
Perjalanan yang lebih singkat tidak hanya memberi kemudahan mobilitas, tetapi juga mengembalikan waktu bagi para penghuni. Waktu yang sebelumnya dapat habis di tengah kemacetan kini digunakan untuk berolahraga, bersepeda, mengikuti komunitas berkebun, berinteraksi dengan keluarga, atau menikmati ruang terbuka menjelang matahari terbenam.
Pada akhir pekan, Mirfa kerap mengajak keluarganya berjalan kaki di sekitar kawasan. Ia memandang kota bukan hanya sebagai tempat bekerja dan mencari nafkah, melainkan juga ruang untuk membangun kehidupan yang lebih sehat serta seimbang.
“Saya berharap ke depan semakin banyak fasilitas yang lengkap, sekarang jalur pejalan kaki semakin terhubung, sangat nyaman rasanya jalan sore hari, menikmati senja di belakang Istana Garuda sambil menghirup udara sore di IKN yang bersih. Saya senang sekali sih,” katanya sambil mengawasi anaknya bermain.
Meski masih terus dibangun, aktivitas kehidupan di IKN mulai tumbuh seiring bertambahnya jalan, layanan publik, fasilitas sosial, dan kegiatan ekonomi. Perubahan tersebut menunjukkan pembangunan ibu kota tidak hanya diukur dari berdirinya gedung dan infrastruktur, tetapi juga dari kemudahan akses serta kualitas waktu yang dirasakan masyarakat.
Penyempurnaan fasilitas dan konektivitas antarkawasan diharapkan semakin memperkuat IKN sebagai kota layak huni yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk bekerja, beraktivitas, dan menikmati kehidupan sehari-hari secara lebih berkualitas. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan