YERUSALEM – Sedikitnya satu orang tewas dan tiga lainnya luka-luka dalam insiden maut yang terjadi Rabu (07/01/2026) di wilayah Yerusalem, ketika sebuah bus menabrak kerumunan demonstran Yahudi ultra-Ortodoks yang memprotes undang-undang wajib militer Israel.
Insiden tersebut terjadi sehari sebelumnya, Selasa (06/01/2026), saat ribuan warga ultra-Ortodoks menggelar aksi unjuk rasa menentang kebijakan pemerintah Israel yang mewajibkan mereka bergabung dengan Angkatan Bersenjata Israel. Peristiwa ini baru dikonfirmasi secara resmi dan dipublikasikan Rabu (07/01/2026).
Layanan darurat Israel, Magen David Adom, melaporkan bahwa bus tersebut lebih dulu menabrak tiga pejalan kaki, sebelum terus melaju dan menjepit seorang remaja berusia 18 tahun di bawah kendaraan. Petugas medis menyatakan korban meninggal dunia di lokasi akibat luka serius.
Kepolisian Israel menjelaskan bahwa aksi unjuk rasa berubah menjadi ricuh. Sejumlah demonstran melakukan pemblokiran jalan, merusak bus, membakar tempat sampah, melempar benda ke arah aparat, serta mengganggu kerja jurnalis yang meliput di lapangan.
Dalam situasi tersebut, bus yang terlibat insiden disebut terhalang oleh massa demonstran yang mengadang jalurnya. Sopir bus kemudian diamankan aparat dan dimintai keterangan. Berdasarkan pemeriksaan awal, pengemudi mengaku mengalami tekanan dan serangan dari kerumunan sebelum insiden terjadi.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak dikategorikan sebagai aksi teror. Penyelidikan difokuskan pada konteks kerusuhan massa dan pelanggaran keselamatan lalu lintas di tengah demonstrasi.
Tragedi ini kembali menyoroti kerasnya polemik wajib militer di Israel yang hingga kini masih memecah koalisi pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Tekanan publik dan politik terus meningkat seiring kebutuhan militer Israel akan tambahan personel. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan