Canberra Melawan! Israel Kena Semprot Australia!

AUSTRALIA – Hubungan diplomatik antara Australia dan Israel kian meruncing setelah keputusan timbal balik terkait pencabutan visa pejabat masing-masing negara. Perselisihan ini menambah daftar panjang ketegangan kedua negara yang akhir-akhir ini bersilang pandang mengenai isu Palestina.

Ketegangan bermula ketika pemerintah Australia membatalkan visa Simcha Rothman, seorang politisi sayap kanan Israel yang tergabung dalam koalisi pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Rothman dijadwalkan menghadiri serangkaian acara yang digelar oleh Asosiasi Yahudi Australia, namun izin masuknya ke Negeri Kanguru dicabut pada Senin (18/8/2025).

Sebagai tanggapan, pemerintah Israel membalas langkah tersebut dengan mencabut visa perwakilan diplomatik Australia yang bertugas untuk Otoritas Palestina. Tindakan itu diumumkan langsung oleh Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar.

“Saya juga menginstruksikan Kedutaan Besar Israel di Canberra untuk memeriksa dengan saksama setiap permohonan visa resmi Australia untuk masuk ke Israel,” ujar Saar.
“Ini menyusul keputusan Australia untuk mengakui ‘negara Palestina’ dan dengan latar belakang penolakan Australia yang tidak beralasan untuk memberikan visa kepada sejumlah tokoh Israel,” tambahnya.

Langkah Israel tersebut langsung menuai kritik tajam dari Canberra. Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, menilai kebijakan itu justru kontraproduktif terhadap upaya perdamaian di Timur Tengah.

“Di saat dialog dan diplomasi lebih dibutuhkan dari sebelumnya, Pemerintah (Perdana Menteri/PM Benjamin) Netanyahu mengisolasi Israel dan melemahkan upaya internasional menuju perdamaian dan solusi dua negara,” kata Penny Wong. Ia menilai pencabutan visa diplomat Australia merupakan “reaksi yang tidak dapat dibenarkan”.

Ketegangan diplomatik ini muncul hanya beberapa minggu setelah Australia menyatakan akan mendukung pengakuan resmi terhadap negara Palestina dalam sidang Majelis Umum PBB pada September mendatang.
Langkah tersebut dianggap Israel sebagai perubahan kebijakan besar yang merugikan posisi Tel Aviv di forum internasional.

Situasi ini menandai periode yang tidak mudah bagi hubungan kedua negara yang selama ini dikenal memiliki kerja sama erat dalam bidang perdagangan, pertahanan, dan teknologi. Namun kini, hubungan itu tampak berada di titik paling rapuh dalam beberapa tahun terakhir. []

Fajar Hidayat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com